Organisasi

Tabligh Akbar Milad ke-109 ’Aisyiyah Purworejo, dr. Agus Taufiqurrohman : Komitmen Bangun Bangsa dengan Islam yang Mencerahkan

PURWOREJO — Semangat dakwah pencerahan dan penguatan peran perempuan dalam membangun bangsa mengemuka dalam kegiatan Tabligh Akbar yang diselenggarakan Pimpinan Daerah ’Aisyiyah (PDA) Purworejo di Pendopo Kabupaten Purworejo, Sabtu (9/5/2026). Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Semarak Milad ke-109 ’Aisyiyah tersebut dihadiri ribuan peserta dari berbagai unsur Muhammadiyah dan ’Aisyiyah se-Kabupaten Purworejo.

Peserta yang hadir terdiri atas pimpinan cabang dan ranting Muhammadiyah-’Aisyiyah, guru TK, Kelompok Bermain, dan PAUD ’Aisyiyah, wali murid, serta masyarakat umum. Suasana pendopo tampak penuh antusias sejak pagi hari dengan nuansa kebersamaan dan semangat dakwah yang kuat.

Hadir sebagai penceramah utama, salah satu Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2022–2027, dr. H. Agus Taufiqurrohman, Sp.S., M.Kes. Dalam kepengurusan PP Muhammadiyah, ia membidangi Pembinaan Kesehatan Umum, Kesejahteraan Sosial, dan Resiliensi Bencana.

Tabligh Akbar berlangsung hangat dan komunikatif. dr. Agus membuka tausiyahnya dengan pantun yang langsung disambut tepuk tangan para peserta.

“Pergi ke kebun memetik jamur
Dimasak pepes aduh lezat
Semoga bapak ibu panjang umur
Dan terus sehat wal afiat”

Pantun tersebut menjadi pengantar pembahasan mengenai pentingnya kesehatan yang paripurna, tidak hanya sehat secara fisik, tetapi juga mental, sosial, dan spiritual.

Menurut dr. Agus, saat ini banyak orang tampak sehat secara jasmani, tetapi mengalami gangguan kesehatan mental akibat tekanan hidup, pola pikir, hingga gaya hidup yang tidak seimbang.

“Kita sering menyebut sehat wal afiat. Itu bukan hanya sehat fisik, tetapi juga sehat jasmani dan rohani,” ujarnya di hadapan jamaah tabligh akbar.

Ia menjelaskan bahwa pemerintah saat ini mengidentifikasi sejumlah penyakit dengan tingkat pembiayaan dan kematian yang sangat tinggi, yakni KJSU yang meliputi kanker, jantung, stroke, dan uronefrologi atau gangguan ginjal.

Menurutnya, peningkatan jumlah pasien cuci darah di Indonesia menjadi salah satu alarm serius yang harus menjadi perhatian masyarakat, khususnya generasi muda.

“Pola konsumsi anak muda kita hari ini banyak yang tidak sesuai dengan pola hidup sehat. Ini berpengaruh terhadap meningkatnya potensi gagal ginjal hingga harus menjalani cuci darah,” katanya.

Selain pola makan, dr. Agus juga menyoroti pentingnya pengendalian emosi sebagai bagian dari menjaga kesehatan. Ia mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya terhadap informasi kesehatan yang menyesatkan di media sosial, termasuk pesan berantai di WhatsApp terkait penanganan stroke.

Ia mencontohkan informasi palsu mengenai penanganan stroke dengan menusuk jari menggunakan jarum yang sempat viral di masyarakat.

“Itu informasi yang menyesatkan. Kalau ada kondisi stroke harus segera ditangani secara medis, bukan percaya sembarang informasi yang tidak jelas sumbernya,” tegasnya.

Dalam tausiyah tersebut, dr. Agus juga mengingatkan pentingnya menjaga emosi dan mengendalikan amarah. Menurutnya, kebiasaan mudah marah dapat meningkatkan risiko stroke dan penyakit lainnya.

“Yang suka marah potensinya semakin besar mengalami stroke. Karena itu jangan mudah marah sesuai perintah Al-Qur’an,” katanya.

Suasana tabligh akbar semakin hidup ketika dr. Agus kembali menyampaikan pantun kedua yang berisi apresiasi terhadap gerakan ’Aisyiyah.

“Mentari pagi bersinar terang
Air berkilau pantulkan cahaya
’Aisyiyah perempuan berkemajuan
Menggerakkan umat membangun bangsa”

Pantun tersebut langsung disambut tepuk tangan dan semangat para kader ’Aisyiyah yang memadati pendopo.

Dalam kesempatan itu, dr. Agus menegaskan bahwa ’Aisyiyah merupakan organisasi perempuan yang memiliki kontribusi luar biasa dalam membangun bangsa melalui pendidikan, kesehatan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat.

Ia bahkan menyebut ’Aisyiyah sebagai organisasi perempuan berkemajuan yang memiliki dampak nyata di tingkat nasional maupun internasional.

“Islam itu mencerahkan, dan ’Aisyiyah menjadi gerakan yang luar biasa dampaknya,” ujarnya.
Ia mengungkapkan bahwa ’Aisyiyah memiliki kontribusi besar dalam gerakan kesehatan reproduksi di Indonesia. Berdasarkan berbagai survei dan data, menurutnya titik layanan dan gerakan kesehatan reproduksi yang dimiliki ’Aisyiyah menjadi salah satu yang terbesar di Indonesia.

“Kami yakin survei tentang penanganan gerakan kesehatan reproduksi di titik se-Indonesia, datanya berbicara bahwa ’Aisyiyah mempunyai titik terbanyak dalam penanganan hal tersebut,” katanya.

Tidak hanya itu, dr. Agus juga menyoroti kiprah ’Aisyiyah dalam bidang pendidikan. Ia menyebut sekolah PAUD ’Aisyiyah di Mesir menjadi salah satu tonggak penting gerakan pendidikan internasional yang dimiliki organisasi perempuan Muhammadiyah tersebut.

“Sekolah pertama di luar negeri adalah PAUD ’Aisyiyah di Mesir,” ungkapnya.

Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan bahwa gerakan perempuan Islam Indonesia mampu hadir dan memberikan kontribusi hingga tingkat global.

dr. Agus juga menjelaskan bahwa saat ini ’Aisyiyah telah memiliki banyak perguruan tinggi dan menjadi salah satu organisasi perempuan dengan jumlah perguruan tinggi terbanyak di dunia.

“’Aisyiyah menjadi organisasi perempuan pertama di dunia yang memiliki perguruan tinggi terbanyak,” ujarnya.

Besarnya kontribusi tersebut, lanjutnya, membuat peran ’Aisyiyah semakin strategis dalam tubuh Persyarikatan Muhammadiyah. Karena itu, kini Ketua Umum PP ’Aisyiyah menjadi anggota pleno PP Muhammadiyah.

“Itu karena besarnya peran ’Aisyiyah dan gerakan ini memang tidak bisa dipisahkan dari Muhammadiyah,” katanya.

Di tengah tausiyahnya, dr. Agus mengajak seluruh peserta untuk menyuarakan semangat gerakan Muhammadiyah dan ’Aisyiyah melalui yel-yel bersama.

“Islam?” teriak dr. Agus.
“Mencerahkan!” jawab peserta serempak.
“Muhammadiyah?”
“Memajukan!”
“Indonesia?”
“Jaya!”

Yel-yel tersebut menggambarkan semangat dakwah Muhammadiyah yang tidak hanya bergerak dalam urusan ibadah, tetapi juga membangun kemajuan bangsa.

Menurut dr. Agus, spirit umat Islam adalah menjadi pribadi yang mencerahkan. Namun, ia menyayangkan masih banyak persoalan umat yang membuat citra Islam belum sepenuhnya terlihat maju dan kuat.

“Islam itu tinggi dan tidak ada yang mengalahkan ketinggiannya. Tetapi kadang kecemerlangan Islam tertutupi oleh umat Islam itu sendiri,” tuturnya.

Ia kemudian menyampaikan kisah yang pernah disampaikan Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla, saat penutupan Muktamar Muhammadiyah di Makassar.

Menurut dr. Agus, Jusuf Kalla saat itu menyampaikan keprihatinan terhadap kondisi ekonomi umat Islam di Indonesia.

“Kalau kita kumpulkan 100 pengusaha sukses di Indonesia, yang muslim mungkin kurang dari 10. Tetapi kalau kita kumpulkan 100 keluarga miskin di negeri ini, lebih dari 90 orang muslim,” kata dr. Agus menirukan pernyataan Jusuf Kalla.

Menurut Jusuf Kalla, kondisi tersebut menunjukkan perlunya pembenahan cara berpikir dan semangat umat Islam dalam bekerja dan mencari rezeki.

“Kalau berislamnya benar, maka mencari rezeki itu spiritnya ibadah,” ujar dr. Agus.

Ia menambahkan bahwa dalam Islam, umat diajarkan menjadi pribadi yang kuat dan mampu memberi manfaat kepada sesama.

“Dalam hadis disebutkan tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Bagaimana akan bisa memberi kalau kita miskin?” katanya.

Karena itu, Muhammadiyah terus menguatkan pilar ekonomi sebagai salah satu gerakan penting dalam membangun kemajuan umat dan bangsa.

Selain bidang ekonomi, Muhammadiyah juga terus membangun pusat-pusat keunggulan melalui sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, dan berbagai amal usaha lainnya.

“Semua dijadikan pusat-pusat keunggulan karena itu salah satu tanda kemajuan,” ujar dr. Agus.

Ia juga menegaskan bahwa Muhammadiyah memiliki komitmen kuat terhadap bangsa dan negara. Dalam Muktamar Muhammadiyah diputuskan bahwa Pancasila merupakan Darul Ahdi wa Syahadah, yaitu konsensus nasional yang harus dijaga dan diperjuangkan bersama.

“Kalau umat Islam terlibat membangun bangsa, maka Indonesia akan semakin hebat,” katanya.

dr. Agus menyebut Muhammadiyah telah melahirkan banyak tokoh bangsa dan pahlawan nasional yang berkontribusi besar bagi Indonesia.

“ Muhammadiyah telah menyumbangkan 23 kader menjadi pahlawan nasional, seperti Jenderal Soedirman, Bung Karno, Fatmawati, Kasman Singodimedjo, dan lainnya,” ujarnya.

Menurutnya, kontribusi tersebut menunjukkan bahwa Muhammadiyah mencintai Indonesia dengan karya nyata dan pengabdian terbaik.

Tabligh Akbar semakin menyentuh ketika dr. Agus membahas peran perempuan dan ibu dalam membangun peradaban bangsa. Ia kembali membuka sesi tersebut dengan pantun ketiga.

“Burung camar terbang di awan
Hinggap sejenak di atas dahan
’Aisyiyah tangguh membawa kemajuan
Berbudi luhur penuh keteladanan”

Ia menegaskan bahwa perempuan, khususnya ibu, memiliki posisi yang sangat penting dalam pendidikan generasi.

“Ibu itu madrasah ula, sekolah pertama bagi anak-anaknya,” katanya.

Menurutnya, bangsa yang hebat lahir dari pendidikan yang hebat, dan pendidikan terbaik dimulai dari keluarga.

dr. Agus juga menyoroti berbagai persoalan moral anak-anak dan remaja yang belakangan marak terjadi. Ia meminta ’Aisyiyah terus mengambil peran nyata dalam membangun karakter generasi muda.

“Dengan kejadian akhir-akhir ini tentang anak-anak, kita perlu prihatin dan ’Aisyiyah harus terus berkomitmen mengambil peran nyata di setiap lini,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa pendidikan tidak cukup hanya mengajarkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Guru harus mampu menanamkan adab, disiplin, dan akhlak kepada peserta didik.

Menurutnya, perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membuat akses ilmu pengetahuan semakin mudah. Namun, peran guru tidak akan pernah tergantikan selama tetap mengajarkan nilai-nilai moral dan keteladanan.

“Google bisa lebih pintar dari kita, AI juga berkembang sangat cepat. Tetapi guru tetap dibutuhkan karena mengajarkan adab, disiplin, dan akhlak,” tegasnya.

Ia mengenang bagaimana guru-guru zaman dahulu selalu mendoakan murid-muridnya sehingga hubungan emosional antara guru dan siswa sangat kuat.

“Dulu guru selalu mendoakan murid-muridnya. Maka murid selalu ada di hati gurunya dan ada dalam doa-doanya,” katanya.

Menurut dr. Agus, ketulusan guru dalam mendidik akan membuat nasihat lebih mudah diterima oleh murid.

“Hati murid akan selalu tersentuh ketika dinasihati. Karena itu semangat ’Aisyiyah dalam membangun bangsa harus terus kita kembalikan,” pungkasnya.

Kegiatan Tabligh Akbar tersebut berlangsung khidmat dan penuh semangat hingga selesai. Para peserta tampak antusias mengikuti tausiyah yang tidak hanya membahas persoalan keagamaan, tetapi juga kesehatan, pendidikan, ekonomi, hingga peran perempuan dalam membangun bangsa.

Melalui kegiatan itu, PDA Purworejo berharap semangat Milad ke-109 ’Aisyiyah semakin memperkuat komitmen kader dalam menghadirkan Islam yang mencerahkan, memajukan, dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat luas.

Selain agenda tabligh akbar juga ada rangkaian Peringatan Milad ’Aisyiyah ke-109 di Purworejo ini tidak hanya sekadar seremonial. Rangkaian kegiatan telah dimulai dari 7 Mei yang lalu, alhamdulillah kita telah sukses menyelenggarakan program Safari KB yang terselenggara atas kerja sama yang apik dengan Ikatan Bidan Indonesia bertempat di RSU ’Aisyiyah dan terus berlanjut ke titik-titik di tingkat kecamatan.

Puncak peringatan Milad dan Hari Ber-’Aisyiyah digelar selama dua hari, yakni Sabtu hingga Ahad (9–10 Mei 2026) di kawasan Alun-alun dan Pendopo Kabupaten Purworejo. Berbagai agenda disiapkan untuk menguatkan syiar dakwah sekaligus pemberdayaan masyarakat. Acara dua hari ini dipenuhi dengan muatan ilmu dan karya nyata, mulai dari tabligh akbar, seminar kesehatan, hingga 12 cabang perlombaan yang diikuti oleh ibu-ibu dan anak-anak.

Semakin ramai dengan agenda Ahad 10 Mei 2026 dengan berbagai rangkaian resepsi Milad Aisyiyah 109 ini. Diawali dengan sambutan dari hadirnya Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purworejo, Kementerian Pemberdayaan Masyarakat, BPJS Kesehatan, BPJS Ketenagakerjaan. Diserahkan simbolis kartu BPJS Ketenagakerjaan kepada guru TK KB PAUD se- Kabupaten Purworejo, Penyerahan apresiasi untuk guru PAUD, Penyerahan bantuan dari Pimpinan DaerahAisyiyah Kabupaten Purworejo kepada difabel dan dhuafa, Tampilan Lagu Bunda oleh Murid TK ABA serta penyerahan tanda cinta untuk kepala dinas, Pelepasan merpati sebagai simbolis milad `Aisyiyah peduli dan cinta akan lingkungan.

Tamu undangan seluruhnya ikut melakukan flashmob bendera merah putih dan bendera Aisyiyah, Gerak dan lagu pandu HW PAUDAisyiyah. Dilanjutkan dengan senam massal (senam anak indonesia hebat) bersama murid TK KB PAUD Aisyiyah se-Kabupaten Purworejo di Lapangan dengan penuh semangat walau kondisi panas. Kemudian dilakukan pembentangan spanduk harapan simbolis tanda cinta anak-anak untukAisyiyah.

Sesi selanjutnya murid-murid mengikuti dongeng anak yang disampaikan oleh Kak Ahmad Damar dengan penuh antusias yang menyampaikan kisah tentang perjuangan guru-guru Aisyiyah dalam proses pendidikan murid di lembaga TK KB PAUDAisyiyah.

Pada sesi terakhir dilakukan pembagian hasil kejuaraan yang telah dilombakan pada Sabtu 9 Mei 2026 oleh Pimpinan Daerah Aisyiyah Purworejo kepada para juara yang berasal dari murid, guru, Pimpinan CabangAisyiyah se-Kabupaten Purworejo yang berhasil dengan penilaian terbaiknya.

Seluruh kegiatan yang dilaksanakan bertujuan mempererat ukhuwah dan silaturahmi antaranggota ‘Aisyiyah se-Kabupaten Purworejo sehingga tercipta kebersamaan dan semangat dakwah yang semakin kuat.

(A.M. Musdani)

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button