Agama

Tangis Haru dan Lelah yang Tuntas: Perjalanan Batin 82 Jemaah Al Mukhlisin Melewati Puncak Haji hingga Pesan ‘Muqarrabin’ di Makkah

MAKKAH – Pada 17 Juni 2026, hiruk-pikuk puncak ibadah haji perlahan mulai menyisakan ruang-ruang kontemplasi. Di bawah teriknya langit Kota Makkah, tersimpan jutaan memori tentang perjuangan menaklukkan ego dan keterbatasan fisik. Bagi jemaah haji Kloter 24 Al Mukhlisin asal Purworejo, rangkaian ibadah tahun ini bukan sekadar pemenuhan rukun ritual Islam, melainkan sebuah perjalanan batin yang menguras air mata dan menguji keikhlasan—terutama ketika takdir mengharuskan mereka merelakan satu saudara H Bambang Siswanto Hartono berpulang ke Rahmatullah di Tanah Suci.

Mengenang kembali momen-momen krusial beberapa hari ke belakang, tergambar jelas raut lelah namun penuh cahaya dari 82 jemaah yang tersisa. Kebersamaan dan senyum syukur mereka sempat terekam abadi dalam potret dokumentasi, di mana bentangan spanduk “The Pilgrims of Al Mukhlisin Purworejo” menjadi saksi bisu betapa eratnya persaudaraan mereka di tengah beratnya ujian.

Jamaah Haji Al-Mukhlisin

Kilas Balik Armuzna: Syahdunya Arafah dan Ujian Fisik di Jamarat

Rentetan perjuangan ini bermula pada 9 Zulhijah. Selepas Subuh, rombongan bertolak dari tenda Mina menuju Arafah. Sambutan hangat berupa suvenir dan sarapan dari pihak syarikah sempat meredakan ketegangan fisik. Tepat pukul 12.30 Waktu Arab Saudi (WAS), khotbah wukuf mengalun syahdu, memecah tangis jemaah. Di momen magis itulah para jemaah memisahkan diri, menengadahkan tangan dalam wukuf mandiri, menumpahkan segala rapuh di hadapan Sang Khalik hingga senja menjemput.

Pelaksanaan Wukuf di Arafah 9 Zulhijah 1447H

Perjalanan malam berlanjut. Pukul 23.00 WAS, bus membelah lautan manusia menuju Muzdalifah. Tiba lewat tengah malam, jemaah merebahkan diri beralaskan bumi dan beratapkan langit Muzdalifah untuk mabit, saling menjaga agar tak ada yang terpisah hingga Subuh menyapa.

Mabit di Muzdalifah

Tantangan terberat hadir kala mereka kembali ke Mina. Menjelang siang, usai salat Zuhur, rombongan harus berjalan kaki selama kurang lebih satu jam menuju area Jamarat untuk melontar Jumrah Aqabah. Di tengah himpitan jutaan umat pada pukul 13.30 WAS, energi jemaah benar-benar diperas. Namun, lelah itu luruh seketika saat tahalul awal dilakukan. Rambut yang dicukur—bahkan digundul habis—menjadi simbol lahirnya lembaran jiwa yang baru.

Perjalanan melewati Mina menuju Area Jamarat

Jamaah Al-Mukhlisin melakukan Tahalul

Memasuki hari-hari Tasyrik (11 dan 12 Zulhijah), ritme ibadah mulai teratur. Menjelang Maghrib menjadi waktu pilihan jemaah untuk melontar jumrah, sebuah keputusan bijak demi menghindari puncak kepadatan dan sengatan cuaca ekstrem siang hari.

Persiapan Melontar Jumrah

Tawaf Ifadah di Sepertiga Malam: Garis Akhir Penuh Haru

Perpisahan dengan tenda Mina terjadi pada pagi hari tanggal 13 Zulhijah pukul 06.00 WAS. Kepulangan ke hotel menyisakan kelegaan karena jarak tempuh pelontaran terakhir jauh lebih dekat.

Sebuah strategi cerdas diambil oleh rombongan dalam menyempurnakan rukun haji terakhir. Menyadari Bus Selawat baru kembali beroperasi pada tanggal 14 pukul 13.00 WAS, dan demi menjaga kondisi fisik jemaah lansia dari terik matahari, mereka baru bergerak ke Masjidil Haram pada pukul 22.00 WAS. Tepat pukul 02.00 dini hari, di bawah temaram syahdu Makkah, rukun Tawaf Ifadah dan Sa’i paripurna diselesaikan. Lelah berminggu-minggu terbayar tuntas dengan linangan air mata syukur.

Tawaf Ifadah

Oase Spiritual: Menjaga Kemabruran Lewat Jalur ‘Muqarrabin’

Menyambung rentetan perjalanan fisik yang luar biasa tersebut, jemaah diajak untuk membasuh dahaga spiritual mereka. Di sebuah sudut ruang hotel pada Senin (17/6/2026) pukul 10.00 WAS, ke-82 jemaah duduk bersimpuh dalam majelis ilmu bertajuk “Sunnah yang Terpelihara, Kemabruran yang Terpelihara”.

Hadir memberikan siraman rohani adalah Ustadz Noor Saif Muhammad Mussafi, pendamping haji KBIH Multazam kloter 26 Jogja. Sosok akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga sekaligus pengurus Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DI Yogyakarta ini —membawakan narasi keislaman yang menyejukkan dan inklusif.

Ustaz Noor Saif Muhammad Musaffi, Ph.D bersama Karom Al-Mukhlisin dr.H Kurbiyanto

Suasana syahdu terekam pada dokumentasi di mana jemaah laki-laki dan perempuan tertunduk khusyuk. Ustadz Noor Saif mengajak jemaah menyelami esensi Surah Al-Waqi’ah tentang tiga golongan manusia di akhirat, dengan fokus pada Golongan Kanan (Ashabul Yamin) dan Golongan yang Paling Didekatkan (Muqarrabin).

Ia mengingatkan, predikat mabrur tidak lantas aman di tangan hanya karena selesainya Tawaf Ifadah. Kemabruran sejati justru diuji saat kembali ke Tanah Air. Kunci untuk menembus barisan Muqarrabin—penghuni derajat surga tertinggi—adalah keteguhan merawat amalan sunah paska-haji, seperti istiqamah salat rawatib hingga puasa sunah.

Tausiyah hari itu menyempurnakan kilas balik perjalanan Kloter 24 Al Mukhlisin. Bahwa ibadah haji bukan hanya soal resiliensi fisik melempar kerikil di Jamarat, melainkan seberapa teguh hati menahan ego dan merawat kebaikan (sunah) sesampainya di rumah nanti. Berkurangnya satu anggota jemaah adalah pesan nyata bahwa dunia hanya persinggahan, dan Tanah Suci adalah saksi terbaik penyerahan diri secara total kepada-Nya.

Kontributor: KBIHU Al-Mukhlisin Muhammadiyah Purworejo

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button