Agama

Dari Oase Spiritual di Mina Menuju ‘Medan Perang Doa’ Arafah: Kisah Ketangguhan Jemaah Al-Mukhlisin

MAKKAH — “Selamat mempersiapkan pertemuan sejati di Medan Perang Doa.” Pesan singkat namun mendalam itu menjadi penyemangat bagi 83 jemaah haji asal Purworejo yang tergabung dalam KBIHU Muhammadiyah Al-Mukhlisin. Usai melewati dinamika hari Tarwiyah yang penuh ujian kesabaran di Mina, kini mereka telah memantapkan hati menatap puncak haji: Wukuf di Padang Arafah.

Siraman Rohani dari Mahasiswa Universitas Malik Khalid

Oase di tengah Mina. Ramzy Hizbillah (tengah), mahasiswa Indonesia di Universitas Malik Khalid, Arab Saudi, Saat memberikan tausiyah

Ketangguhan jemaah dalam menghadapi keterbatasan fasilitas di Mina tak lepas dari penguatan mental yang terus dilakukan. Sebelum bertolak ke Arafah, suasana haru menyelimuti tenda jemaah pria. Ramzy Hizbillah, putra dari H. Dandung Danadi yang merupakan mahasiswa di Universitas Malik Khalid (King Khalid University) Arab Saudi, hadir memberikan oase spiritual.

Dalam kultum-nya, Ramzy mengajak jemaah untuk menjaga kemurnian niat dan kepasrahan total. Kehadiran sosok muda berprestasi ini menjadi penyuntik semangat luar biasa bagi para jemaah, memberikan ketenangan batin tepat sebelum mereka memasuki fase puncak ibadah haji.

Menjaga Fisik dan Logistik di Balik Tenda

Suasana jemaah pria yang sedang memulihkan tenaga di dalam tenda Mina setelah melewati dinamika dan ujian kesabaran saat menunaikan sunnah Tarwiyah.

​Di balik layar, kemandirian jemaah terlihat dari cara mereka mengelola kondisi fisik. Di dalam tenda yang sederhana, para tamu Allah ini saling bahu-membahu mengatur logistik dan asupan cairan. Menghadapi cuaca yang menantang dan jadwal ibadah yang padat, strategi menjaga hidrasi dan istirahat yang cukup menjadi kunci agar tetap bugar saat menempuh perjalanan menuju Arafah.

Jejak Kemandirian: Evakuasi ke Masjid Kuwait Mina

Momen jemaah haji KBIHU Muhammadiyah Al-Mukhlisin Purworejo saat mengevakuasi diri secara mandiri ke Masjid Kuwait, Mina, demi menjaga kondisi fisik dan psikis di tengah minimnya arahan dari pihak syarikah.

Perjalanan menuju Arafah ini membawa kenangan ketangguhan sehari sebelumnya. Pada 8 Zulhijah, jemaah sempat diuji dengan minimnya koordinasi dari pihak syarikah terkait penempatan tenda. Tanpa menunggu lama, Ketua Rombongan Kurbiyanto mengambil langkah berani dengan melakukan evakuasi mandiri ke Masjid Kuwait, Mina. Di masjid inilah, jemaah menunaikan salat Isya berjamaah sembari mengamankan barang bawaan—sebuah bukti nyata bahwa edukasi manasik dari Tanah Air benar-benar menjadi bekal saat menghadapi kendala di lapangan.

Siap Total Menyongsong Arafah Sebelum Subuh

​Kini, lembaran ujian di Mina telah berganti dengan optimisme tinggi. Sejak sebelum fajar menyingsing pada Selasa pagi (26/5/2026), rombongan jemaah wanita telah berkumpul dengan rapi dan penuh disiplin. Dengan balutan kain ihram dan identitas syal merah-putih, mereka berdiri tegak di depan spanduk kebanggaan Al-Mukhlisin.

​”Sudah siap sebelum Subuh untuk menunggu jemputan menuju Arafah,” lapor Zakky, perwakilan tim di lapangan. Sorot mata penuh harap dari para jemaah menandakan kesiapan mereka untuk menumpahkan segala doa di Padang Arafah, memohon ampunan, dan meraih predikat haji mabrur.

Langkah kaki meninggalkan Mina pagi ini bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan sebuah transisi menuju fase kepasrahan total di hamparan Arafah.

Lalu, bagaimana suasana kedatangan dan momen khusyuk jemaah saat pertama kali menginjakkan kaki di Padang Arafah? Simak laporan eksklusif dan terlengkap kami selanjutnya sore nanti langsung dari lokasi wukuf.

​Kontributor: KBIHU Muhammadiyah Al-Mukhlisin Purworejo

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button