Agama

Sedih Belum Mampu Naik Haji? Pesan dari Pelosok Purworejo Ini Bikin Hati Tenang di Rapat PRM Tlogokotes

PURWOREJO — Ibadah haji sering kali menjadi impian yang terasa jauh bagi sebagian besar umat Islam karena kendala biaya yang membengkak dan antrean yang memakan waktu puluhan tahun. Namun, sebuah pesan menyejukkan justru datang dari rapat dan majelis sederhana di pelosok Purworejo, membongkar rahasia amalan harian yang pahalanya dijamin setara dengan berangkat ke Tanah Suci.

Malam itu, Kamis (4/6/2026), suasana di Masjid Ad-Darussalam, Desa Tlogokotes, Kecamatan Bagelen, terasa sangat hangat dan penuh kekeluargaan. Di tengah ujian—di mana Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Bagelen, Bapak Rohadi SE, tengah terbaring sakit di rumah sakit—roda pergerakan dan keilmuan pantang berhenti.

Pengurus Ranting Muhammadiyah (PRM) Tlogokotes yang dikomandoi Bapak Supriyadi selaku ketua, bersama Penasihat H. Sutarjo dan segenap anggota, tetap istikamah menggelar Pengajian Rutin Pengurus.

Di hadapan jemaah yang hadir, Sekretaris PCM Bagelen, H. Zumarudin S.Pd.I, menyampaikan sebuah tausiah yang langsung menyentuh keresahan terdalam umat: kerinduan melihat Kakbah. Ia menegaskan, Allah tidak pernah membebani hamba-Nya di luar batas kemampuan, apalagi sampai meminjam uang atau menjual aset penting hanya demi bisa berangkat haji.

​”Bagi yang tidak memiliki kemampuan finansial atau terkendala fisik, tidak perlu berkecil hati. Islam memberikan jalan keluar bagi mereka yang tidak bisa berangkat haji atau umrah, namun tetap bisa mendapatkan pahala yang setara secara sempurna,” ujar Zumarudin mengawali pesan menenangkannya.

Tiga “Jalan Pintas” Menuju Baitullah

Dalam pengajian tersebut, Zumarudin memaparkan tiga amalan bergaransi hadis nabi yang memiliki ganjaran pahala haji dan umrah.

Pertama, menjaga salat Subuh berjemaah yang dilanjutkan dengan duduk berzikir mengingat Allah hingga terbit matahari, lalu ditutup dengan salat Syuruq (Isyraq) dua rakaat. Kedua, berbakti dengan tulus kepada orang tua (Birrul Walidain). Seseorang yang merawat ibunya dengan penuh kasih sayang, menurut hadis nabi, pahalanya setara dengan orang yang berhaji, berumrah, dan berjihad di jalan Allah.

Ketiga—adalah Jihad Fi Sabilillah.
Di jaman sekarang barangkali sudah tdk seperti di jaman Rasulullah SAW bahwa Jihad itu identik dengan mengangkat pedang atau panah. Di jaman modern ini yg masuk ke dalam kategori Jihad fi Sabilillah diantaranya berdakwah amar ma’ruf nahi mungkar seperti menjadi guru mengaji (ustadz/ustadzah).

Militansi Ikhlas di Akar Rumput

​Momentum melangkahkan kaki menuntut ilmu di masjid inilah yang ternyata menjadi fondasi hidup-matinya pergerakan Islam di masyarakat. Beribadah dan mencari ilmu bukan sekadar rutinitas menggugurkan kewajiban, melainkan bentuk nyata dari ikhtiar merawat kehidupan sosial keagamaan.

Ustaz Zumarudin mengingatkan agar warga yang aktif di organisasi tidak sekadar menjadi ‘anggota pasif’. “Kader yang disiapkan ini harus benar-benar kader yang militan. Jangan sampai hanya masirun (masih sekadar iuran). Semuanya harus bergerak ikhlas lillahi ta’ala,” tegasnya.

​Pesan tersebut menggemakan kembali wasiat luhur tokoh bangsa, K.H. Ahmad Dahlan: “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari penghidupan di Muhammadiyah”.

Di malam yang sejuk itu, warga Desa Tlogokotes membuktikan bahwa kekayaan sejati sebuah perserikatan bukanlah pada megahnya gedung perkantoran di kota, melainkan pada keikhlasan anggotanya yang terus merawat masjid desa, mendoakan pemimpinnya yang sedang sakit, dan memburu “pahala haji” lewat majelis-majelis ilmu yang sederhana.

Kontributor: Epin Hidayat

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button