OrganisasiSosial

Menolak Mati Kekeringan, Inovasi ‘Infus’ Galon Bekas Selamatkan Ekosistem Aren di Embung Bagelen Sokoagung

PURWOREJO – Kemarau panjang acapkali menjadi mimpi buruk bagi kelestarian alam, terutama bagi bibit pohon yang baru ditanam. Namun, narasi berbeda tengah diukir di kawasan Embung Bagelen Desa Sokoagung, Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo. Menolak mengulang kesalahan masa lalu yang kerap terjebak pada selebrasi penanaman tanpa perawatan pasca-kegiatan, kolaborasi warga dan relawan kini turun tangan langsung merawat napas kehidupan di area embung.

Selasa (21/7/2026) sejak pukul 16.00 WIB hingga menjelang mentari terbenam, kawasan embung dipenuhi aktivitas mitigasi lingkungan. Merealisasikan keputusan rapat darurat akhir pekan sebelumnya, para relawan mulai mengaplikasikan inovasi “irigasi infus” yang memanfaatkan galon air mineral bekas hasil donasi.

Metode irigasi tetes ini dirancang secara taktis untuk mengalirkan air setetes demi setetes, memastikan area perakaran bibit aren tetap lembap setidaknya hingga 12 hari ke depan. Langkah ini menjadi wujud nyata komitmen perawatan berkelanjutan, memastikan bibit aren yang digadang-gadang sebagai penahan longsor dan penyimpan cadangan air masa depan tidak mati massal akibat teriknya kemarau.

Tak sekadar mengurus kelangsungan pepohonan, sore itu rombongan juga meninjau langsung progres pengeboran sumur yang diinisiasi melalui program ZakatMU. Kehadiran sumur ini memikul harapan ganda yang sangat krusial bagi hajat hidup orang banyak. Selain diproyeksikan sebagai tulang punggung suplai air bersih bagi warga yang terdampak krisis kemarau, debit airnya kelak akan dialirkan untuk mengisi dan menjaga kestabilan volume air di Embung Bagelen Desa Sokoagung.

Sinergi lintas elemen saat meninjau langsung lokasi Embung Sokoagung pada Selasa (21/7/2026) sore.

Sinergi lintas elemen menjadi kunci utama dari denyut gerakan ini. Turut hadir langsung membersamai kegiatan hingga waktu Maghrib, Kepala Desa Sokoagung, BapakTriwanto, bersama tokoh-tokoh penggerak lainnya yakni Sidik Purnomo (MDMC), Muh Abduh Nasikhin (JATAM), Mbah Yayan Taryana (KOKAM), serta Wahidin (PCM Bagelen).

Dalam diskusi hangat di sela-sela penataan lahan, para tokoh ini mematangkan cetak biru program “Arenisasi”. Visi mereka searah: kawasan di sekitar embung tidak boleh sekadar dihijaukan, melainkan harus ditata agar berhasil guna secara ekologi sekaligus berdaya guna secara ekonomi bagi kesejahteraan masyarakat luas. Hari ini, ekosistem Aren Sokoagung bukan lagi sekadar proyek tanam-tinggal, melainkan simbol rawat dan juang bersama.

Kontributor: Epin Hidayat

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button