Agama

Pengajian Akbar Hari Ber-Muhammadiyah: Dr. H. Tafsir Ajak Umat Menjaga Keseimbangan Hubungan dengan Allah, Sesama, dan Alam

PURWOREJO – Pengajian Akbar Hari Ber-Muhammadiyah yang diselenggarakan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Purworejo di Desa Keduren, Kecamatan Purwodadi, Ahad (2/8/2026), tidak hanya menjadi ruang mempererat ukhuwah, tetapi juga momentum meneguhkan kembali nilai-nilai Islam Berkemajuan melalui pesan tentang pentingnya menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan Allah Swt., sesama makhluk, dan alam semesta.

Dalam tausiahnya, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah, Ust. Dr. H. Tafsir, M.Ag., menyampaikan bahwa Al-Qur’an mengajarkan keseimbangan sebagai fondasi kehidupan. Menurutnya, seluruh aktivitas manusia hendaknya berorientasi pada harmonisasi tiga unsur utama yang menjadi perhatian Al-Qur’an, yakni Allah sebagai Al-Khaliq (Sang Pencipta), manusia sebagai makhluk, dan alam sebagai tempat manusia menjalankan amanah kekhalifahan.

“Al-Qur’an berbicara tentang tiga hal, yaitu Allah sebagai Sang Pencipta, manusia, dan alam. Ketiganya harus berada dalam keseimbangan. Hubungan dengan Allah diwujudkan melalui ibadah, hubungan dengan sesama diwujudkan dengan akhlak yang mulia, sedangkan hubungan dengan alam diwujudkan dengan menjaga serta memakmurkannya,” ujar Dr. Tafsir di hadapan ribuan jamaah.

Menurutnya, Islam tidak hanya mengatur hubungan vertikal antara manusia dengan Allah (hablum minallah), tetapi juga menuntun manusia membangun hubungan sosial (hablum minannas) sekaligus menjaga kelestarian lingkungan sebagai amanah Allah Swt.

Al-Qur’an Mengajarkan Keseimbangan
Dalam pengajiannya, Dr. Tafsir mengutip firman Allah Swt. dalam QS. Ar-Rahman ayat 7–9 yang menjelaskan bahwa Allah menciptakan langit dan meletakkan mizan (keseimbangan) agar manusia tidak melampaui batas.

Beliau menegaskan bahwa konsep keseimbangan tersebut bukan hanya berkaitan dengan timbangan dalam perdagangan, melainkan juga mencakup keseimbangan kehidupan secara menyeluruh, baik dalam aspek spiritual, sosial, maupun lingkungan.

“Kehidupan yang baik adalah kehidupan yang seimbang. Ketika hubungan manusia dengan Allah baik, hubungan dengan sesama terjaga, dan alam dipelihara, maka keberkahan akan hadir dalam kehidupan,” jelasnya.

Menurutnya, berbagai persoalan yang dihadapi dunia saat ini, mulai dari krisis lingkungan, konflik sosial, hingga kemerosotan moral, berawal dari hilangnya keseimbangan tersebut.

Belajar dari Sunnah Rasulullah
Dr. Tafsir juga mengajak jamaah meneladani kebiasaan Rasulullah saw. ketika bangun tidur. Beliau menjelaskan bahwa Nabi Muhammad saw. mengajarkan agar seseorang tidak langsung berdiri, melainkan duduk terlebih dahulu sebelum memandang langit dan berdoa kepada Allah.

Menurutnya, kebiasaan sederhana itu mengandung makna yang sangat dalam.

“Duduk terlebih dahulu merupakan bentuk menjaga keseimbangan tubuh dan jiwa. Setelah itu Rasulullah memandang langit sebagai bentuk tadabbur terhadap tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta,” tuturnya.

Beliau kemudian mengutip QS. Ali ‘Imran ayat 190–191 yang menjelaskan bahwa penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang merupakan tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang berakal, yaitu mereka yang senantiasa berdzikir sekaligus berpikir.

Ia menegaskan bahwa seorang muslim tidak cukup hanya rajin beribadah, tetapi juga harus mampu membaca fenomena alam sebagai bagian dari ayat-ayat Allah (ayat kauniyah) yang mengantarkan manusia semakin mengenal kebesaran-Nya.

Menjaga Alam Adalah Bagian dari Ibadah
Salah satu pesan yang paling ditekankan dalam pengajian tersebut ialah pentingnya menjaga lingkungan hidup.

Dr. Tafsir menyampaikan bahwa alam bukan sekadar tempat tinggal manusia, melainkan juga bukti nyata kebesaran Allah yang harus dijaga keberlangsungannya.

Ia menilai, gerakan penanaman pohon aren yang menjadi bagian dari Hari Ber-Muhammadiyah merupakan implementasi nyata ajaran Islam tentang tugas manusia sebagai khalifah di muka bumi.

“Menanam pohon bukan sekadar kegiatan lingkungan, tetapi merupakan bagian dari ibadah. Ketika kita menjaga alam, sesungguhnya kita sedang menjaga amanah Allah,” katanya.

Menurutnya, pohon aren memiliki nilai yang sangat strategis karena mampu menjaga cadangan air, mencegah erosi, memperbaiki kualitas tanah, sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Oleh karena itu, gerakan Kampung Aren yang diinisiasi Muhammadiyah Purworejo dinilai selaras dengan ajaran Al-Qur’an yang melarang manusia berbuat kerusakan di muka bumi.

Dakwah Harus Mengikuti Perkembangan Zaman
Dalam kesempatan tersebut, Dr. Tafsir juga mengingatkan bahwa memahami ajaran Islam tidak cukup hanya melalui pendekatan ilmu-ilmu klasik.

Ia menjelaskan bahwa dakwah Muhammadiyah harus mampu memadukan ilmu agama dengan ilmu sosial, teknologi, budaya masyarakat (‘urf), serta pendekatan spiritual (‘irfan) sehingga mampu menjawab tantangan zaman.

“Tidak cukup hanya menguasai nahwu dan sharaf. Kita juga harus memahami ilmu sosial, perkembangan teknologi, budaya masyarakat, dan hikmah dalam kehidupan agar dakwah benar-benar memberikan solusi bagi umat,” jelasnya.

Pesan tersebut, menurutnya, merupakan ciri Islam Berkemajuan yang senantiasa terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan tanpa meninggalkan nilai-nilai Al-Qur’an dan Sunnah.

Memakmurkan Bumi sebagai Amanah Kekhalifahan
Mengakhiri tausiahnya, Dr. Tafsir mengutip firman Allah Swt. dalam QS. Al-Qashash ayat 77 yang memerintahkan manusia untuk mengejar kebahagiaan akhirat tanpa melupakan kehidupan dunia, berbuat baik kepada sesama, serta tidak membuat kerusakan di muka bumi.

Beliau menegaskan bahwa seorang muslim memiliki tiga tanggung jawab utama dalam kehidupan.

Pertama, membangun hubungan dengan Allah melalui ibadah, doa, dan dzikir. Kedua, menjaga hubungan dengan sesama manusia melalui akhlak yang mulia, amanah, dan berbuat ihsan. Ketiga, menjaga hubungan dengan alam melalui upaya memelihara, memakmurkan, dan tidak merusaknya.

“Inilah hakikat Islam, yaitu menghadirkan ketundukan kepada Allah yang melahirkan keselamatan bagi manusia dan alam semesta,” tegasnya.

Di akhir pengajian, Dr. Tafsir mengajak seluruh jamaah menjadikan Hari Ber-Muhammadiyah sebagai momentum memperkuat kesalehan spiritual, sosial, dan ekologis. Menurutnya, keberhasilan dakwah tidak hanya diukur dari banyaknya majelis ilmu, tetapi juga dari hadirnya masyarakat yang berakhlak, lingkungan yang lestari, serta kehidupan yang semakin sejahtera.

Dengan mengangkat tema keseimbangan hubungan antara Allah, manusia, dan alam, Pengajian Akbar Hari Ber-Muhammadiyah 2026 menjadi penegasan bahwa dakwah Muhammadiyah tidak berhenti pada penyampaian nilai-nilai keislaman, melainkan diwujudkan dalam gerakan nyata untuk memakmurkan bumi, menjaga kelestarian lingkungan, dan membangun peradaban yang berkemajuan.

Kontributor: A.M. Musdani

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button