Agama

Pengajian Ahad Pagi Ranting Muhammadiyah Harjobinangun Tekankan 10 Kepribadian Muhammadiyah dan Kepedulian Sosial

PURWOREJO — Ranting Muhammadiyah Harjobinangun menyelenggarakan Pengajian Ahad Pagi di Masjid Al Ikhlash Harjobinangun Grabag, Ahad, 3 Rabiulawal 1448 Hijriah(26-08-2026). Pengajian diikuti jamaah warga Muhammadiyah se-Kecamatan Grabag serta masyarakat sekitar.

Hadir sebagai pemateri Ustadz Drs. H. Jumary Al Ngluwari, M.Pd., Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah. Dalam kajiannya, beliau mengangkat tema “10 Sifat Kepribadian Muhammadiyah”, dengan menekankan pentingnya menjadikan nilai-nilai Islam dan Kepribadian Muhammadiyah sebagai pedoman dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, dan berorganisasi.

Muhammadiyah Harus Membawa Perdamaian dan Kesejahteraan

Dalam pengajian tersebut, Ustadz Jumary mengawali pembahasan dengan mengingatkan bahwa salah satu karakter utama Muhammadiyah adalah beramal dan berjuang untuk perdamaian dan kesejahteraan.

Hal ini sejalan dengan QS An-Nisa ayat 114, yang menjelaskan bahwa tidak banyak kebaikan dalam pembicaraan-pembicaraan manusia kecuali pembicaraan yang mendorong kepada sedekah, perbuatan ma’ruf, dan mendamaikan manusia. Allah juga menjanjikan pahala yang besar bagi orang yang melakukan hal tersebut dengan mengharap keridaan-Nya.

Dari ayat tersebut, jamaah diajak memahami bahwa dakwah tidak cukup hanya dengan menyampaikan nasihat, tetapi harus melahirkan tindakan nyata. Setidaknya terdapat tiga bentuk kebaikan yang ditekankan:

  1. Mengajak bersedekah, yakni mendorong kepedulian kepada sesama dan membantu mereka yang membutuhkan.
  2. Mengajak kepada kebaikan (amar ma’ruf), baik melalui perkataan maupun keteladanan.
  3. Mendamaikan sesama manusia, yaitu menjadi bagian dari solusi ketika terjadi perselisihan dan tidak menjadi penyulut konflik.

Dengan demikian, warga Muhammadiyah diharapkan kehadirannya mampu memberikan ketenangan, persaudaraan, kemanfaatan, dan kesejahteraan bagi masyarakat.

Jalan Menuju Kesejahteraan Adalah Jalan yang Membutuhkan Pengorbanan

Materi berikutnya mengangkat persoalan kesejahteraan dengan mengaitkannya pada QS Al-Baqarah ayat 111–117 dan terutama QS Al-Balad ayat 11–18.

Dalam QS Al-Balad, Allah menyebut jalan kebaikan sebagai al-‘aqabah, yakni jalan yang mendaki dan sukar. Jalan tersebut antara lain diwujudkan dengan membebaskan manusia dari perbudakan, memberikan makanan pada masa kelaparan, membantu anak yatim yang memiliki hubungan kekerabatan, serta membantu orang miskin yang sangat membutuhkan. Setelah itu, manusia diperintahkan untuk menjadi bagian dari orang-orang yang beriman, saling menasihati dalam kesabaran dan kasih sayang.

Pesan tersebut menunjukkan bahwa membangun kesejahteraan bukan jalan yang selalu mudah. Diperlukan semangat mendaki, pengorbanan, kepedulian, dan kesediaan memberikan apa yang dibutuhkan oleh orang lain.

Karena itu, membantu sesama tidak cukup sekadar memberikan sesuatu yang kita miliki. Pertolongan harus diberikan sesuai kebutuhan orang yang ditolong. Jika seseorang membutuhkan makanan, maka dibantu dengan makanan. Jika membutuhkan biaya pendidikan, diberikan dukungan pendidikan. Jika membutuhkan pendampingan, diberikan pendampingan.

Semangat inilah yang menjadi bagian penting dari gerakan sosial Muhammadiyah: menghadirkan Islam dalam bentuk amal nyata yang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Empat Sifat Rasulullah sebagai Teladan

Dalam kajiannya, Ustadz Jumary juga mengingatkan empat sifat utama Rasulullah SAW yang perlu diteladani oleh setiap warga Muhammadiyah, yaitu:

Pertama, Shiddiq (jujur).
Kejujuran menjadi dasar kepercayaan. Seorang Muslim harus membiasakan diri berkata benar dan menjauhi kebohongan, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam menjalankan amanah organisasi.

Kedua, Amanah (dapat dipercaya).
Setiap amanah harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab. Jabatan, pekerjaan, harta, ilmu, maupun kepercayaan masyarakat semuanya merupakan amanah yang akan dipertanggungjawabkan.

Ketiga, Tabligh (menyampaikan).
Kebaikan dan kebenaran harus disampaikan. Seorang warga Muhammadiyah tidak cukup hanya mengetahui ajaran Islam, tetapi juga mempunyai tanggung jawab untuk menyampaikan dan mengamalkannya dengan cara yang baik.

Keempat, Fathanah (cerdas).
Perjuangan membutuhkan kecerdasan, ilmu pengetahuan, kebijaksanaan, dan kemampuan membaca keadaan. Kecerdasan harus digunakan untuk menghadirkan kemaslahatan dan menyelesaikan persoalan umat.

Keempat sifat tersebut menjadi modal penting agar warga Muhammadiyah mampu menjadi pribadi yang berintegritas, bertanggung jawab, komunikatif, dan mampu memberikan solusi bagi masyarakat.

Menguatkan 10 Kepribadian Muhammadiyah

Ustadz Jumary juga menjelaskan bahwa 10 Kepribadian Muhammadiyah merupakan karakter yang harus menjadi pedoman warga Persyarikatan. Rumusan tersebut merupakan hasil Keputusan Muktamar Muhammadiyah ke-35 dan secara resmi memuat sepuluh sifat yang wajib dipelihara Muhammadiyah.

  1. Beramal dan berjuang untuk perdamaian dan kesejahteraan

Muhammadiyah harus hadir sebagai gerakan yang membawa kedamaian sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dakwah tidak boleh berhenti pada ceramah, tetapi diwujudkan melalui amal sosial, pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, dan berbagai bentuk pelayanan kemanusiaan.

  1. Memperbanyak kawan dan mengamalkan ukhuwah Islamiyah

Warga Muhammadiyah harus memperluas persaudaraan, bukan memperbanyak permusuhan. Perbedaan pandangan tidak boleh menjadi alasan untuk saling menjauh atau bermusuhan. Ukhuwah Islamiyah harus menjadi kekuatan untuk membangun umat.

  1. Lapang dada dan luas pandangan dengan memegang teguh ajaran Islam

Lapang dada berarti mampu menerima perbedaan dengan sikap dewasa, tidak mudah tersulut emosi, serta tetap berpegang teguh kepada ajaran Islam. Luas pandangan juga berarti terus belajar dan memahami persoalan secara menyeluruh.

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir pernah menjelaskan bahwa lapang dada bukan berarti kehilangan prinsip, tetapi tetap berada dalam koridor Islam sambil memperluas wawasan dan pemahaman.

  1. Bersifat keagamaan dan kemasyarakatan

Muhammadiyah adalah gerakan Islam sekaligus gerakan kemasyarakatan. Karena itu, aktivitas Persyarikatan harus senantiasa menghubungkan nilai-nilai agama dengan persoalan nyata masyarakat.

  1. Mengindahkan hukum, undang-undang, peraturan, serta dasar dan falsafah negara yang sah

Warga Muhammadiyah harus menghormati hukum dan kehidupan berbangsa serta bernegara. Apabila terdapat persoalan yang perlu diperbaiki, sikap yang ditempuh adalah memberikan kritik, masukan, dan koreksi secara konstitusional dan bijaksana.

  1. Amar ma’ruf nahi munkar dalam segala lapangan serta menjadi teladan yang baik

Amar ma’ruf nahi munkar bukan sekadar mengajak dengan kata-kata, tetapi juga harus dilakukan melalui keteladanan. Dakwah akan lebih kuat ketika orang yang mengajak kepada kebaikan juga menunjukkan kebaikan tersebut dalam kehidupannya.

  1. Aktif dalam perkembangan masyarakat dengan maksud ishlah dan pembangunan sesuai ajaran Islam

Warga Muhammadiyah harus aktif mengambil bagian dalam penyelesaian persoalan masyarakat. Semangat ishlah berarti menghadirkan perbaikan, sedangkan pembangunan diarahkan untuk menciptakan kehidupan masyarakat yang lebih baik dan berkemajuan.

  1. Bekerja sama dengan golongan Islam manapun dalam menyiarkan dan mengamalkan agama Islam serta membela kepentingannya

Perbedaan dalam persoalan keagamaan tidak boleh menghilangkan persaudaraan. Muhammadiyah perlu membangun kerja sama dengan berbagai kelompok Islam dalam perkara-perkara yang menjadi kepentingan bersama dan membawa kemaslahatan umat.

  1. Membantu pemerintah dan bekerja sama dengan golongan lain dalam memelihara dan membangun negara

Muhammadiyah mempunyai tanggung jawab kebangsaan. Warga Muhammadiyah dapat berkontribusi dalam pembangunan bersama pemerintah dan berbagai elemen masyarakat untuk mewujudkan masyarakat yang adil, makmur, dan diridai Allah SWT.

  1. Bersifat adil serta korektif ke dalam dan ke luar dengan bijaksana

Muhammadiyah harus mampu melakukan evaluasi dan koreksi terhadap dirinya sendiri maupun terhadap persoalan di luar organisasi. Kritik harus dilakukan secara adil, proporsional, berdasarkan data dan argumentasi, serta diarahkan untuk menghasilkan perbaikan, bukan sekadar menyalahkan.

Sepuluh sifat tersebut bukan hanya rumusan organisasi, tetapi harus menjadi watak dan perilaku warga Muhammadiyah dalam kehidupan sehari-hari. Kepribadian Muhammadiyah menjadi pembingkai cara berpikir dan bertindak dalam kehidupan berorganisasi, bermasyarakat, dan berbangsa.

Al-Qur’an sebagai Nasihat, Penyembuh, Petunjuk, dan Rahmat

Pada bagian lain, disampaikan pula mengenai fungsi Al-Qur’an sebagaimana terdapat dalam QS Yunus ayat 57–58.

Allah menjelaskan bahwa Al-Qur’an merupakan mau’izhah (pelajaran/nasihat) dari Allah, penyembuh bagi penyakit yang ada di dalam dada, petunjuk, serta rahmat bagi orang-orang beriman. Pada ayat berikutnya, manusia diarahkan untuk bergembira atas karunia dan rahmat Allah karena hal tersebut lebih baik daripada apa yang dikumpulkan manusia.

Ayat ini memberikan pemahaman bahwa keberadaan Al-Qur’an bukan sekadar untuk dibaca dan dihafalkan. Al-Qur’an harus menjadi pedoman yang membentuk hati, pikiran, sikap, dan tindakan manusia.

Sebagai nasihat, Al-Qur’an mengingatkan manusia tentang jalan yang benar.
Sebagai penyembuh, Al-Qur’an memberikan tuntunan bagi penyakit hati dan berbagai persoalan batin manusia.
Sebagai petunjuk, Al-Qur’an menjadi pedoman dalam menentukan arah kehidupan.
Sebagai rahmat, Al-Qur’an menghadirkan kebaikan dan kemaslahatan bagi orang-orang yang mengimaninya.

Karena itu, warga Muhammadiyah dituntut untuk semakin dekat dengan Al-Qur’an sekaligus menghadirkan nilai-nilainya dalam kehidupan sosial.

Pengajian Ditutup dengan Berbagi Sayuran Gratis

Sebagai bentuk implementasi nilai kepedulian dan berbagi kepada masyarakat, setelah pengajian panitia menyediakan sayuran gratis yang dapat diambil oleh jamaah.

Kegiatan tersebut menjadi contoh sederhana bagaimana pengajian tidak hanya memberikan penguatan ilmu dan spiritualitas, tetapi juga diikuti dengan aksi sosial yang langsung memberikan manfaat kepada masyarakat.

Kegiatan berbagi tersebut sekaligus selaras dengan pesan yang disampaikan dalam pengajian mengenai pentingnya sedekah, kepedulian kepada sesama, membangun kesejahteraan, serta memberikan pertolongan sesuai kebutuhan orang yang ditolong.

Melalui Pengajian Ahad Pagi ini, Ranting Muhammadiyah Harjobinangun diharapkan semakin mampu menguatkan kehidupan keagamaan sekaligus mengembangkan gerakan sosial yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Semangat tersebut sejalan dengan cita-cita Muhammadiyah untuk mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, melalui dakwah Islam dan amar ma’ruf nahi munkar yang dilaksanakan dengan dasar ketakwaan serta mengharap rida Allah SWT.

Kontributor: Triyono

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button