Agama

Kajian Pagi Ramadhan Kedua Masjid Darussalam Kutoarjo: Tegaskan Pentingnya Niat sebagai Pondasi Amal

Purworejo — Kajian Pagi Ramadhan 1447 Hijriah di Masjid Darussalam Kecamatan Kutoarjo Kabupaten Purworejo kembali digelar pada Kamis (19/2/2026) sebagai rangkaian hari kedua kegiatan yang diselenggarakan Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah (PCPM) Kutoarjo. Forum keilmuan ini menghadirkan Ustaz Syaifudin Ahmad, Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kutoarjo, sebagai pemateri.

Kajian tersebut diikuti pimpinan persyarikatan, jamaah, simpatisan, serta masyarakat umum yang antusias menyimak materi bertema pemurnian niat sebagai fondasi amal. Agenda ini bertujuan menjadi forum pembelajaran dan pencerahan umat melalui kajian Al-Qur’an, hadis, serta wawasan keislaman kontekstual.

Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan mampu mendorong semangat beramal saleh, meningkatkan kualitas ibadah puasa, membangun ukhuwah Islamiah, serta menumbuhkan kesadaran muhasabah diri di kalangan jamaah.

Dalam pemaparannya, Ustaz Syaifudin Ahmad mengangkat Hadis Arbain Nawawi ke-1 yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim tentang pentingnya niat dalam setiap amal. Ia mengutip sabda Rasulullah saw., “Sesungguhnya amal perbuatan itu sesuai dengan niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan apa yang diniatkannya.”

Menurutnya, hadis tersebut merupakan pokok ajaran agama Islam karena menjelaskan hubungan antara amal lahir dan amal batin. Ia menegaskan bahwa ibadah tidak hanya dinilai dari aktivitas fisik, tetapi juga dari niat sebagai amalan hati.

“Hadis pertama ini adalah pokok agama. Ibadah terdiri dari hal yang tampak berupa aktivitas fisik dan hal yang tidak tampak berupa niat sebagai amalan hati,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa niat menjadi faktor pembeda antara aktivitas biasa dan ibadah. Bahkan, amalan kecil dapat bernilai besar jika disertai niat yang benar.

“Amalan kecil bisa menjadi besar karena niat. Sebaliknya, amalan besar bisa menjadi kecil apabila niatnya tidak tepat,” kata Syaifudin.

Dalam kajian tersebut, ia menjelaskan sebab turunnya hadis yang berkaitan dengan kisah seorang laki-laki yang berhijrah ke Madinah demi menikahi seorang perempuan bernama Ummu Qais. Peristiwa ini menjadi pelajaran bahwa nilai hijrah tidak ditentukan oleh perbuatan lahiriah semata, melainkan oleh tujuan di baliknya.

Secara tidak langsung, Ustaz Syaifudin mengajak jamaah untuk mengoreksi niat dalam setiap aktivitas kehidupan, termasuk ibadah Ramadhan. Ia menekankan pentingnya meniatkan semua amal semata-mata karena Allah Swt. (lillahi ta’ala) sebagai pembuka keikhlasan.

“Niat itu membedakan kita beribadah atau tidak. Maka mempersiapkan niat yang benar menjadi langkah awal menuju keikhlasan,” tuturnya.

Selain membahas hadis utama, ia juga mengutip hadis riwayat Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas tentang pencatatan amal oleh Allah Swt. Hadis tersebut menjelaskan bahwa seseorang yang berniat melakukan kebaikan tetapi belum sempat melakukannya tetap memperoleh pahala, bahkan niat baik yang diwujudkan akan dilipatgandakan hingga tujuh ratus kali.

Ustaz Syaifudin menilai hadis ini memberikan motivasi besar bagi umat Islam untuk memperbanyak niat baik selama Ramadhan. Menurutnya, niat merupakan investasi spiritual yang bernilai tinggi di sisi Allah.

“Jika seseorang berniat melakukan kebaikan lalu tidak jadi melakukannya, Allah tetap mencatat sebagai satu kebaikan sempurna. Ini menunjukkan betapa mulianya niat,” jelasnya.

Ia juga menyampaikan kisah Rasulullah saw. sepulang dari Perang Tabuk yang menyebutkan bahwa ada orang-orang di Madinah yang mendapatkan pahala seperti para sahabat yang ikut berperang. Mereka tidak berangkat karena uzur seperti sakit atau tidak memiliki kendaraan, namun memiliki niat kuat untuk berpartisipasi.

“Mereka membersamai kalian dalam pahala, meskipun tidak hadir secara fisik, karena memiliki niat yang tulus,” ungkapnya.

Pesan tersebut, menurut Syaifudin, menjadi pengingat bahwa niat yang benar dapat mengantarkan seseorang memperoleh pahala besar meskipun terdapat keterbatasan dalam pelaksanaan amal.

Kajian berlangsung khidmat dan interaktif. Jamaah terlihat menyimak dengan serius, mencatat poin penting, serta berdiskusi setelah kegiatan. Kehadiran berbagai unsur masyarakat menunjukkan tingginya minat terhadap kajian Ramadhan yang diselenggarakan di Masjid Darussalam Kutoarjo.

Panitia pelaksana dari Pemuda Muhammadiyah Kutoarjo menyampaikan bahwa Kajian Pagi Ramadhan akan berlangsung selama 1–27 Ramadhan dengan menghadirkan beragam narasumber. Secara tidak langsung panitia berharap forum ini mampu menjadi sarana pembinaan spiritual yang berkelanjutan.

Kajian hari kedua ini menegaskan pentingnya memulai Ramadhan dengan memperbaiki niat sebagai pondasi amal. Melalui pemahaman hadis tentang niat, jamaah diharapkan mampu menjalani ibadah puasa dengan kesadaran yang lebih mendalam, sehingga setiap aktivitas Ramadhan bernilai ibadah.

Dengan semangat menebar inspirasi dan menguatkan iman, Masjid Darussalam Kutoarjo terus menghidupkan tradisi majelis ilmu sebagai pusat pembinaan umat. Kajian Pagi Ramadhan menjadi bukti bahwa Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah ritual, tetapi momentum pembaruan niat, peningkatan amal, dan penguatan ukhuwah Islamiah di tengah masyarakat.

(A.M. Musdani)

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button