
PCM Bagelen Selenggarakan Shalat Khusyuf Malam 15 Ramadhan 1447 H di Masjid Al-Ikhlas Kulon Pasar Krendetan
Purworejo – Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bagelen (PCM) Bagelen menyelenggarakan Shalat Khusyuf (shalat gerhana bulan) berjamaah pada Selasa malam, 3 Maret 2026 atau bertepatan dengan malam 15 Ramadhan 1447 H, di Masjid Al-Ikhlas Kulon Pasar Krendetan (KPK), Kauman Timur, Kecamatan Bagelen. Kegiatan dimulai bakda Maghrib pukul 18.30 WIB dan diikuti oleh jamaah serta warga Muhammadiyah di wilayah Bagelen dan sekitarnya.
Bertindak sebagai imam adalah Ustadz Ikhwan, S.Pd.I., sedangkan khutbah disampaikan oleh Ustadz Erwin Burhanudin, S.H.I., S.H., M.M., SHEL., yang juga merupakan Anggota Majelis Hukum dan HAM (MHH) Pimpinan Daerah Muhammadiyah Purworejo. Pelaksanaan shalat khusyuf ini menjadi bagian dari ikhtiar dakwah PCM Bagelen dalam menghidupkan sunnah Rasulullah ﷺ ketika terjadi fenomena gerhana, sekaligus memperkuat kesadaran tauhid dan refleksi spiritual di tengah masyarakat.
Dalam khutbahnya yang berjudul “Gerhana Bulan: Iman yang Diuji, Redup Sejenak, Namun Selalu Berpeluang Bersinar Lebih Terang,” Ustadz Erwin menyampaikan uraian lengkap sebagai berikut:
Gerhana bulan selalu menimbulkan rasa takjub. Cahaya purnama yang biasanya terang benderang tiba-tiba meredup, perlahan tertutup bayangan bumi. Kadang bulan hanya tampak sebagian, kadang bulan juga berubah kemerahan penuh misteri. Fenomena ini datang tidak sering, namun selalu meninggalkan kesan mendalam.
Dalam pandangan Islam, gerhana adalah bagian dari sunnatullah, hukum alam yang telah ditetapkan Allah dengan sangat teliti.
Al-Qur’an menggambarkan keteraturan itu:
“Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan (Allah) Yang Mahaperkasa, Maha Mengetahui.” (Yasin: 38)
Gerhana bulan terjadi ketika bumi berada di antara matahari dan bulan, sehingga sinar matahari terhalang mencapai permukaan bulan. Secara ilmiah, perhitungan lintasan benda langit ini dapat dipastikan dengan akurat.
Namun dalam pandangan iman, peristiwa gerhana bukan sekadar bayangan kosmik, melainkan tanda kebesaran Allah yang menghadirkan pesan spiritual.
Rasulullah Saw bersabda:
“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari banyak tanda kekuasaan Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena wafatnya atau hidupnya seseorang. Jika kalian melihat gerhana, maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalatlah, dan bersedekahlah.” (HR Bukhari dan Muslim).
Dalam riwayat lain beliau mengingatkan:
“Maka bersegeralah untuk berzikir kepada Allah, berdoa kepada-Nya, dan beristighfar.” (HR Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menegaskan bahwa gerhana adalah momentum berharga untuk mendekatkan diri kepada Allah. Doa, zikir, istighfar, dan sedekah menjadi ibadah yang seolah menemukan ruangnya yang paling hening di bawah cahaya bulan yang meredup.
Sejarah mencatat bahwa peristiwa gerhana pernah bertepatan dengan wafatnya Ibrahim, putra Rasulullah. Banyak sahabat sempat beranggapan bahwa gerhana itu terjadi karena wafatnya sang bayi. Namun Nabi segera meluruskan:
“Sesungguhnya matahari dan bulan tidak mengalami gerhana karena wafatnya atau hidupnya seseorang.” (HR Bukhari).
Teguran Nabi ini mengajarkan agar manusia tidak menisbatkan fenomena alam pada takhayul atau mitos. Gerhana bukan tanda buruk, bukan pula pertanda kematian seseorang. Ia adalah pengingat tentang betapa besarnya kekuasaan Allah.
Namun di balik penegasan akidah itu, ada kisah penuh haru. Ibrahim, putra Rasulullah dari Maria Qibtiyyah, wafat pada usia yang masih sangat belia. Nabi menggendongnya dengan air mata yang menetes. Para sahabat bertanya, seakan heran melihat Rasulullah menangis. Beliau menjawab,
“Ini adalah tangisan kasih sayang.”
Tangisan itu menunjukkan bahwa kesedihan adalah fitrah manusiawi. Namun kesedihan tidak berarti hilangnya kesabaran. Sabar bukan meniadakan tangis, melainkan menjaga hati untuk tetap ridha terhadap ketentuan Allah.
Sabda Nabi menguatkan hal itu:
“Sesungguhnya besarnya pahala itu sesuai dengan besarnya cobaan. Dan apabila Allah mencintai suatu kaum, niscaya Allah akan memberikan cobaan kepada mereka.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Seperti bulan yang sesekali ditutupi bayangan, hidup manusia pun kerap diliputi ujian. Namun di balik gelap selalu ada cahaya. Ujian bukanlah tanda kebencian Allah, melainkan cara-Nya meninggikan derajat hamba.
Gerhana bulan memang hanya berlangsung singkat. Namun bagi yang mau merenung, peristiwa gerhana menyimpan pelajaran yang abadi. Peristiwa gerhana mengajak manusia untuk berzikir, berdoa, memohon ampunan, dan bersedekah. Peristiwa ini juga meneguhkan kesadaran bahwa jagat raya ini tidak berjalan sendiri, melainkan diatur dengan sempurna oleh Allah.
Ketika cahaya bulan perlahan kembali merekah setelah tertutup kegelapan, seakan tersampaikan pesan lembut: hidup selalu punya kesempatan untuk terang kembali. Maka setiap kali kita menatap gerhana bulan, sejatinya kita sedang menatap pantulan iman. Iman yang diuji, redup sejenak, namun selalu berpeluang bersinar lebih terang.
Kegiatan shalat khusyuf ini berlangsung dengan khidmat dan penuh kekhusyukan, menjadi momentum muhasabah kolektif sekaligus penguatan spiritual bagi jamaah PCM Bagelen di malam pertengahan Ramadhan 1447 H.
(Epin Hidayat)



