Tulisan

Refleksi Hari Ibu dalam Perspektif Islam: Ibu Berkemajuan ala ‘Aisyiyah di Era Digital

Hari Ibu dalam perspektif Islam bukan sekadar perayaan simbolik, tetapi momentum muhasabah atas peran strategis perempuan sebagai ibu dalam membangun peradaban. Bagi ‘Aisyiyah, ibu adalah pilar utama keluarga sekaligus aktor penting dalam mewujudkan masyarakat Islam yang berkemajuan. Peran ibu tidak berhenti di ranah domestik, tetapi meluas hingga ranah sosial, pendidikan, dan dakwah.

Dalam keluarga, ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Nilai keimanan, akhlak, dan adab pertama kali ditanamkan melalui tutur kata dan keteladanan ibu. Islam menempatkan posisi ibu sangat mulia, bahkan Rasulullah SAW menegaskan bahwa surga berada di bawah telapak kaki ibu. Hal ini menunjukkan bahwa peran pengasuhan dan pendidikan yang dijalankan ibu memiliki nilai ibadah yang sangat tinggi.

Sebagai istri, ibu berperan sebagai pendamping suami dalam membangun rumah tangga sakinah, mawaddah, wa rahmah. Ibu bukan hanya pengelola rumah, tetapi mitra sejajar dalam musyawarah, penguat dalam ujian, dan penyeimbang dalam dinamika keluarga. Dalam pandangan ‘Aisyiyah, relasi suami-istri dibangun atas dasar kesalingan (mubadalah), saling menghormati, dan saling menguatkan dalam kebaikan.

‘Aisyiyah memandang bahwa perempuan memiliki hak dan kewajiban untuk berperan di ruang publik. Banyak ibu yang juga berperan sebagai pendidik, tenaga kesehatan, aktivis sosial, maupun wanita karier. Selama dijalankan dengan tanggung jawab dan nilai keislaman, peran ini merupakan bagian dari amal saleh. Perempuan berkemajuan adalah perempuan yang berilmu, mandiri, dan memberi manfaat luas tanpa meninggalkan amanah utama dalam keluarga.

Di lingkungan masyarakat, ibu ‘Aisyiyah hadir sebagai teladan dan penggerak. Melalui pengajian, kegiatan sosial, pendidikan, dan pelayanan umat, ibu-ibu ‘Aisyiyah berkontribusi aktif dalam membangun masyarakat yang berakhlak, peduli, dan berkeadilan. Peran sosial ini merupakan wujud nyata dakwah amar ma’ruf nahi munkar yang dijalankan dengan pendekatan kasih sayang.

Memasuki era digital, tantangan ibu semakin kompleks. Arus informasi yang tidak terbendung, pengaruh media sosial, serta perubahan perilaku anak menuntut ibu untuk cerdas, kritis, dan adaptif. Ibu tidak hanya dituntut melek teknologi, tetapi juga menjadi pendamping dan pengarah agar teknologi dimanfaatkan untuk kebaikan, pendidikan, dan penguatan iman.

Namun demikian, di tengah tuntutan zaman, kewajiban utama ibu tetap tidak berubah: menjaga amanah keluarga, mendidik anak dengan nilai tauhid dan akhlak mulia, serta menjadi teladan dalam sikap dan perilaku. ‘Aisyiyah menegaskan bahwa kemajuan tidak boleh menjauhkan perempuan dari nilai-nilai Islam, justru harus memperkuat peran ibu sebagai penjaga moral dan peradaban.

Refleksi Hari Ibu menjadi pengingat bahwa ibu adalah sosok yang bekerja dalam senyap namun berdampak besar. Dengan nilai Islam dan spirit ‘Aisyiyah, ibu diharapkan terus menjadi pribadi yang tangguh, berilmu, dan berkemajuan, demi terwujudnya keluarga kuat dan masyarakat yang diridhai Allah SWT.

Sayidah Sholihah

Pengajar SMP Muhammadiyah Bagelen

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button