
“Di Mana Pun Bumi Dipijak, Tegakkan Islam”: Sepuluh Pesan Direktur Pondok Pesantren Darul Arqom Muhammadiyah Bayan Bekali Santri Menjadi Kader Umat dan Bangsa
PURWOREJO – Masa perpisahan dan liburan bagi santri bukan sekadar penanda berakhirnya proses belajar di dalam kelas. Lebih dari itu, momen tersebut menjadi awal perjalanan baru untuk mengamalkan ilmu, menjaga akhlak, dan menebarkan manfaat di tengah masyarakat. Atas dasar itulah Direktur Pondok Pesantren Darul Arqom Muhammadiyah Bayan Purworejo, Ustaz Dr. (Cand.) Muhammad Nurrosyid Huda Setiawan, S.Th.I., MIRKH., menyampaikan sepuluh pesan kehidupan kepada seluruh santri dan alumni sebagai bekal menjalani kehidupan setelah kembali ke keluarga maupun masyarakat.
Pesan-pesan tersebut bukan hanya berisi nasihat moral, melainkan juga menjadi arah perjuangan bagi kader Muhammadiyah agar senantiasa menjadikan Islam sebagai pedoman hidup, Al-Qur’an sebagai cahaya, dan pengabdian kepada umat sebagai tujuan perjalanan.
Dalam penyampaiannya, Muhammad Nurrosyid Huda Setiawan menegaskan bahwa pendidikan pesantren tidak berhenti ketika santri meninggalkan lingkungan pondok. Justru, menurutnya, keberhasilan pendidikan akan terlihat ketika para alumni mampu menghadirkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.
“Ilmu yang diperoleh di pondok harus terus hidup dalam perilaku. Santri bukan hanya membawa ijazah, tetapi juga membawa amanah untuk menjadi teladan di mana pun berada,” ujarnya.
Di Mana Pun Bumi Kau Pijak, Maka Kau Bertanggung Jawab atas Tegaknya Islam di Sana
Pesan pertama menjadi fondasi seluruh perjalanan hidup seorang kader. Menurut Direktur PPDA Muhammadiyah Bayan, seorang santri tidak boleh merasa bahwa dakwah hanya dilakukan ketika berada di pesantren atau menjadi pengurus organisasi.
Di mana pun seorang alumni tinggal, bekerja, menempuh pendidikan, ataupun bermasyarakat, ia memiliki tanggung jawab moral untuk menghadirkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
“Di mana pun bumi kau pijak, maka kau bertanggung jawab atas tegaknya Islam di sana,” pesan beliau.
Pesan tersebut mengajarkan bahwa dakwah tidak selalu dilakukan melalui ceramah. Kejujuran, kedisiplinan, kepedulian, dan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari merupakan bentuk dakwah yang paling nyata. Seorang kader Muhammadiyah diharapkan menjadi cahaya yang memberi manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Jagalah Sholat agar Hidup Penuh Nikmat
Sholat menjadi tiang kehidupan seorang muslim. Karena itu, menjaga sholat bukan sekadar menjalankan kewajiban, melainkan menjaga hubungan dengan Allah SWT.
Muhammad Nurrosyid Huda Setiawan mengingatkan bahwa segala kenikmatan hidup akan terasa lebih bermakna apabila seseorang senantiasa menjaga sholat tepat waktu dengan penuh kekhusyukan.
“Jagalah sholat agar hidup penuh nikmat,” katanya.
Menurutnya, banyak persoalan hidup yang menjadi ringan ketika seseorang tidak pernah meninggalkan sholat. Ketenangan hati, kemudahan dalam urusan, dan keberkahan rezeki lahir dari kedekatan seorang hamba dengan Rabb-nya.
Tetaplah Menjadi Penghafal Al-Qur’an sehingga Mendapatkan Keberkahannya
Bagi santri Darul Arqom, menghafal Al-Qur’an bukan target yang berhenti setelah lulus. Hafalan harus terus dijaga, diulang, diamalkan, dan diajarkan kepada orang lain.
Direktur pondok menekankan bahwa Al-Qur’an merupakan sahabat terbaik sepanjang kehidupan.
“Tetaplah menjadi penghafal Al-Qur’an sehingga engkau memperoleh keberkahan darinya,” tuturnya.
Ia menjelaskan bahwa keberkahan Al-Qur’an bukan hanya berupa kuatnya hafalan, tetapi juga hadir dalam ketenangan jiwa, keluasan ilmu, kemudahan langkah, serta pertolongan Allah dalam berbagai urusan kehidupan.
Bergaullah dengan Orang-Orang Shalih agar Tidak Salah Jalan
Lingkungan menjadi salah satu faktor utama yang menentukan arah kehidupan seseorang.
Muhammad Nurrosyid Huda Setiawan mengingatkan bahwa teman yang baik akan mengajak kepada kebaikan, sedangkan lingkungan yang buruk dapat menyeret seseorang menjauh dari nilai-nilai Islam.
“Bergaullah dengan orang shalih sehingga kita tidak menjadi salah,” pesannya.
Ia berharap para alumni tetap aktif di lingkungan masjid, Muhammadiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Pemuda Muhammadiyah, maupun komunitas positif lainnya agar semangat belajar dan berdakwah tetap terpelihara.
Jangan Bosan Menjadi Orang Baik dan Benar
Di tengah kehidupan modern, terkadang seseorang merasa lelah ketika kebaikannya tidak dihargai. Namun, menurut Direktur PPDA Muhammadiyah Bayan, seorang muslim tidak boleh berhenti berbuat baik hanya karena tidak memperoleh pujian manusia.
“Jangan bosan menjadi orang baik dan benar,” ujarnya.
Pesan ini mengandung makna bahwa keikhlasan merupakan kekuatan utama seorang mukmin. Kebaikan yang dilakukan dengan tulus akan menjadi investasi amal yang tidak pernah sia-sia di sisi Allah SWT.
Hidup Ini Hanya Sekali, Maka Jadilah Manusia yang Berarti
Menurut Muhammad Nurrosyid Huda Setiawan, umur manusia sangat singkat dibandingkan kehidupan akhirat yang kekal.
Karena itu, setiap waktu hendaknya digunakan untuk menghasilkan karya, menolong sesama, serta memberikan manfaat bagi lingkungan.
“Hidup ini hanya sekali, maka jadilah manusia yang berarti,” katanya.
Ia mengajak para santri agar tidak menyia-nyiakan masa muda hanya untuk kesenangan sesaat, tetapi mengisinya dengan belajar, berkarya, berdakwah, dan mengabdi kepada masyarakat.
Jangan Berbangga karena Harta, tetapi Banggalah atas Adab dan Ilmu
Kesuksesan seseorang tidak selalu diukur dari banyaknya harta ataupun tingginya jabatan.
Direktur pondok mengingatkan bahwa kemuliaan seseorang justru terlihat dari akhlak, kesopanan, dan ilmu yang dimiliki.
“Jangan hanya berbangga dengan kekayaan harta, tetapi berbanggalah dengan adab dan ilmu yang engkau miliki,” pesannya.
Ia menjelaskan bahwa harta dapat hilang kapan saja, sedangkan adab dan ilmu akan terus menjadi kemuliaan yang melekat sepanjang hayat serta membawa manfaat bagi orang lain.
Jadilah Manusia yang Bermanfaat, Meski Berat, karena Itulah Bekal Akhirat
Memberikan manfaat kepada orang lain sering kali membutuhkan pengorbanan waktu, tenaga, bahkan materi.
Namun, menurut Muhammad Nurrosyid Huda Setiawan, pengorbanan tersebut merupakan investasi terbaik untuk kehidupan setelah mati.
“Jadilah bermanfaat, meski berat, tetapi itulah bekal akhirat,” tuturnya.
Ia mengajak seluruh santri agar tidak berhenti mencari peluang untuk membantu sesama melalui ilmu, tenaga, maupun doa. Sebab manusia terbaik adalah mereka yang paling banyak memberikan manfaat.
Teruslah Hidup dengan Harapan dan Cita-Cita
Dalam pesannya, Direktur PPDA Muhammadiyah Bayan juga mengingatkan pentingnya memiliki impian besar.
Menurutnya, cita-cita akan menjaga semangat seseorang untuk terus belajar dan berkembang.
“Teruslah hidup dengan penuh harapan dan cita-cita agar hari-harimu lebih bermakna,” katanya.
Ia berharap para alumni tidak takut bermimpi menjadi ulama, dosen, dokter, guru, peneliti, pengusaha, maupun pemimpin bangsa selama semuanya diniatkan sebagai jalan ibadah kepada Allah SWT.
Doakan Pondokmu dan Kembalilah Menjadi Kader Persyarikatan
Pesan terakhir menjadi penutup yang sarat makna. Muhammad Nurrosyid Huda Setiawan mengingatkan bahwa hubungan santri dengan pondok tidak pernah berakhir setelah kelulusan.
Sebaliknya, para alumni diharapkan tetap mendoakan almamaternya serta kembali mengabdi sesuai kemampuan masing-masing.
“Doakan pondokmu dan kembalilah menjadi kader Persyarikatan,” pesannya.
Ia menjelaskan bahwa Muhammadiyah membutuhkan kader-kader yang memiliki ilmu, integritas, serta semangat pengabdian. Karena itu, alumni diharapkan terus aktif dalam berbagai kegiatan Persyarikatan, baik melalui Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul ‘Aisyiyah, maupun organisasi otonom lainnya.
Menurutnya, keberhasilan sebuah pesantren bukan hanya diukur dari banyaknya lulusan, tetapi dari seberapa besar kontribusi para alumninya bagi agama, masyarakat, bangsa, dan Persyarikatan.
Kesepuluh pesan tersebut menjadi refleksi bahwa pendidikan di Pondok Pesantren Darul Arqom Muhammadiyah Bayan Purworejo tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik maupun hafalan Al-Qur’an. Lebih jauh, pendidikan diarahkan untuk membentuk kader yang memiliki akidah yang kokoh, ibadah yang terjaga, akhlak yang mulia, wawasan yang luas, serta semangat pengabdian sepanjang hayat.
Pesan-pesan itu juga menjadi pengingat bahwa seorang santri akan menghadapi tantangan kehidupan yang semakin kompleks. Namun, selama tetap berpegang teguh pada Al-Qur’an, menjaga sholat, memperkuat silaturahmi, mencintai ilmu, serta aktif dalam perjuangan Muhammadiyah, mereka akan mampu menjadi pribadi yang memberi cahaya bagi lingkungan sekitarnya.
Pada akhirnya, sepuluh pesan tersebut bukan sekadar nasihat untuk dikenang, melainkan pedoman hidup yang diharapkan terus diamalkan. Dari pesan-pesan sederhana itulah lahir harapan besar agar setiap alumni Pondok Pesantren Darul Arqom Muhammadiyah Bayan Purworejo menjadi generasi Islam berkemajuan yang mampu menebarkan manfaat, menjaga nilai-nilai dakwah, serta melanjutkan estafet perjuangan Muhammadiyah di mana pun Allah SWT menakdirkan mereka berada.
Kontributor: A.M. Musdani



