
Pengajian Ahad Pagi PCM Grabag, Ustadz Mahfudz S.Ud Ajak Jamaah Memahami Makna Surat Al-Fatihah
PURWOREJO – Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Grabag menyelenggarakan Pengajian Ahad Pagi pada Ahad, 25 Oktober 2026, bertepatan dengan 14 Jumadilawal 1448 H, bertempat di Gedung Dakwah Muhammadiyah Grabag, depan Kantor Desa Roworejo, Kecamatan Grabag, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.
Pengajian diikuti warga Muhammadiyah se-Kecamatan Grabag serta masyarakat sekitar. Ustadz Mahfudz, S.Ud., Kepala LKSA Muhammadiyah Purworejo, hadir sebagai pemateri dengan mengangkat tema “Memahami Surat Al-Fatihah sebagai Petunjuk Jalan Kehidupan.”
Dalam penyampaiannya, Ustadz Mahfudz mengajak jamaah untuk tidak sekadar membaca Surat Al-Fatihah dalam salat, tetapi juga memahami kandungan makna dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Al-Fatihah, Ummul Kitab yang Dibaca Berulang Kali
Surat Al-Fatihah merupakan surat pembuka dalam Al-Qur’an yang terdiri atas tujuh ayat. Surat ini dikenal sebagai Ummul Kitab dan memiliki kedudukan penting dalam ibadah umat Islam, khususnya salat.
Ustadz Mahfudz menyoroti bahwa umat Islam membaca Al-Fatihah berulang kali setiap hari. Dalam pelaksanaan salat lima waktu, surat ini dibaca pada setiap rakaat, sehingga bagi orang yang menunaikan 17 rakaat salat fardu, Al-Fatihah dibaca sekurang-kurangnya 17 kali sehari semalam.
Pengulangan tersebut bukan sekadar rutinitas ibadah, melainkan pengingat agar seorang muslim senantiasa memohon petunjuk Allah dan berusaha menapaki jalan yang diridai-Nya.
Ayat Keenam: Memohon Petunjuk ke Jalan yang Lurus
Pembahasan berlanjut pada Surat Al-Fatihah ayat keenam:
“Ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm.”
Artinya, “Tunjukilah kami jalan yang lurus.”
Ayat ini merupakan doa agar Allah senantiasa memberikan petunjuk menuju jalan yang benar, yakni jalan Islam yang berlandaskan keimanan, ketaatan, dan tuntunan wahyu.
Permohonan tersebut juga mengandung kesadaran bahwa manusia membutuhkan bimbingan Allah dalam setiap langkah kehidupan. Karena itu, seorang muslim tidak cukup hanya mengetahui kebenaran, tetapi juga perlu berusaha menjalankannya secara konsisten.
Ayat Ketujuh: Jalan Orang-Orang yang Diberi Nikmat
Penjelasan kemudian dilanjutkan dengan Surat Al-Fatihah ayat ketujuh:
“Ṣirāṭal-lażīna an‘amta ‘alaihim, gairil-magḍūbi ‘alaihim wa laḍ-ḍāllīn.”
Artinya, “(Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat.”
Berdasarkan penjelasan tafsir, ayat ketujuh menerangkan jalan lurus yang dimohonkan pada ayat sebelumnya. Jalan tersebut adalah jalan orang-orang yang memperoleh nikmat Allah berupa iman, petunjuk, dan keridaan-Nya. .
Ayat ini sekaligus menjadi pengingat agar umat Islam menjauhi jalan yang menyimpang dari kebenaran. Tafsir menjelaskan bahwa orang yang dimurkai adalah mereka yang mengetahui kebenaran tetapi tidak mengikuti dan mengamalkannya, sedangkan orang yang sesat adalah mereka yang menyimpang dari petunjuk yang benar.
Dengan demikian, doa dalam Al-Fatihah bukan hanya permohonan agar ditunjukkan jalan yang benar, melainkan juga permohonan agar diberi kemampuan untuk mengikuti dan mempertahankan jalan tersebut.
QS. An-Nisa Ayat 69: Empat Golongan yang Mendapat Nikmat Allah
Sebagai penguat penjelasan Surat Al-Fatihah ayat ketujuh, Ustadz Mahfudz juga mengacu pada Surat An-Nisa ayat 69.
Allah Swt. berfirman:
“Wa may yuṭi‘illāha war-rasūla fa ulā’ika ma‘al-lażīna an‘amallāhu ‘alaihim minan-nabiyyīna waṣ-ṣiddīqīna wasy-syuhadā’i waṣ-ṣāliḥīn, wa ḥasuna ulā’ika rafīqā.”
Artinya:
“Siapa yang menaati Allah dan Rasul (Nabi Muhammad), mereka itulah orang-orang yang (akan dikumpulkan) bersama orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para pencinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.”
Ayat tersebut menjelaskan bahwa orang yang menaati Allah dan Rasul-Nya akan memperoleh kedudukan mulia dan dikumpulkan bersama orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah. Mereka terdiri atas empat golongan:
- An-Nabiyyin (para nabi), yaitu manusia pilihan Allah yang menerima wahyu dan membimbing umat menuju kebenaran.
- Ash-Shiddiqin (para pencinta kebenaran), yaitu orang-orang yang teguh membenarkan kebenaran, jujur dalam perkataan, serta selaras antara keyakinan dan perbuatannya.
- Asy-Syuhada (orang-orang yang mati syahid), yaitu mereka yang memperoleh kemuliaan syahid di jalan Allah.
- Ash-Shalihin (orang-orang saleh), yaitu orang-orang yang menjaga keimanan dan berusaha menjalankan amal kebajikan dalam kehidupan.
Keempat golongan tersebut menunjukkan bahwa jalan yang lurus harus diwujudkan melalui ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Iman tidak berhenti pada pengakuan, tetapi tercermin dalam kejujuran, pengorbanan, dan amal saleh.
Catatan: Dalam penjelasan materi, tiga golongan yang ditekankan ialah nabi dan rasul, ash-shiddiqin, serta ash-shalihin. Adapun QS. An-Nisa ayat 69 secara lengkap menyebutkan empat golongan, termasuk asy-syuhada.
Mensyukuri Nikmat Sederhana dalam Kehidupan
Selain menjelaskan nikmat berupa petunjuk dan kedudukan mulia di sisi Allah, pengajian ini juga mengajak jamaah menyadari nikmat yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.
Tiga keadaan yang patut disyukuri antara lain:
- Masih bisa bangun tidur, sebagai kesempatan baru untuk beribadah, memperbaiki diri, dan berbuat kebaikan.
- Tersedia makanan, sebagai rezeki yang patut disyukuri dan tidak selayaknya membuat seseorang melupakan orang lain yang membutuhkan.
- Diberi keamanan dari marabahaya, sehingga dapat menjalani aktivitas, bekerja, beribadah, dan berkumpul bersama keluarga dengan tenang.
Nikmat tersebut mengingatkan bahwa rasa syukur tidak hanya diwujudkan melalui ucapan alhamdulillah, tetapi juga dengan menggunakan kesempatan hidup, rezeki, dan keamanan untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat.
Dari Jamaah Pengajian Menjadi Jamaah Kehidupan
Pesan penting dari pengajian ini adalah harapan agar kegiatan keagamaan tidak berhenti pada kehadiran fisik di majelis ilmu. Ilmu yang diperoleh hendaknya membentuk perilaku, memperkuat ketaatan, meningkatkan kepedulian sosial, serta menghadirkan manfaat bagi masyarakat.
Memahami Surat Al-Fatihah berarti terus memohon petunjuk Allah, berusaha mengikuti jalan orang-orang yang mendapat nikmat-Nya, serta menjauhi perbuatan yang menyimpang dari kebenaran.
Semangat tersebut sejalan dengan tujuan dakwah Muhammadiyah untuk membangun kehidupan Islami yang berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah, sekaligus menghadirkan amal nyata bagi umat dan masyarakat.
Semoga Pengajian Ahad Pagi PCM Grabag menjadi sarana memperkuat iman, memperluas pemahaman agama, dan menumbuhkan semangat beramal saleh.
Semoga pengajian ini tidak hanya menghadirkan jamaah pengajian, tetapi juga melahirkan jamaah kehidupan—mereka yang membawa nilai-nilai Al-Qur’an ke dalam keluarga, lingkungan, dan kehidupan bermasyarakat.
(Triyono)



