
Rafka Febrian Terpilih Ketua IPM di SMP Muhammadiyah Bagelen
SMP Muhammadiyah Bagelen menggelar rangkaian pemilihan Ketua dan Pengurus Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) periode 2026 melalui model pembelajaran berbasis proyek (PjBL). Kegiatan berlangsung sejak Senin (10/11) hingga Sabtu (15/11), melibatkan panitia, para kandidat, dan peserta didik kelas VII–IX.
Panitia memulai tugas dengan menyusun administrasi pemilihan, termasuk penentuan lambang, rancangan anggaran belanja, daftar hadir, serta formulir pendaftaran calon. Pada hari berikutnya, panitia membuka pendaftaran kandidat, mengundi nomor urut, dan menyosialisasikan informasi kepada kelompok pemilih. Kegiatan kampanye dilaksanakan pada Kamis, sementara pemungutan suara berlangsung pada Jumat pagi.
Ketua panitia, Rehan Afandi, menyampaikan bahwa seluruh tahapan berjalan sesuai jadwal. “Panitia berusaha menjaga ketertiban dan memastikan setiap proses terlaksana tepat waktu,” ujarnya.
Hasil penghitungan suara menetapkan Rafka Febrian sebagai Ketua IPM terpilih. Rafka mengapresiasi dukungan dari peserta didik. “Saya akan berusaha menjalankan amanah ini dan mengembangkan ruang gerak organisasi,” katanya.
Kepala SMP Muhammadiyah Bagelen, Ulfah Hidayati, S.Pd, menilai kegiatan ini efektif sebagai sarana pembentukan karakter pelajar. “Peserta didik belajar jujur, bertanggung jawab, dan merasakan proses demokrasi secara langsung. Ini jauh lebih bermakna dibandingkan pembelajaran teori,” ujarnya.
Guru Matematika sekaligus Ketua Kegiatan PjBL, Yuniarti Puji Astuti, S.Pd, menambahkan bahwa pemilihan ini memberikan pengalaman demokrasi yang utuh bagi peserta didik. “Siswa tidak hanya membuat media kampanye, tetapi juga memahami dinamika organisasi dan kerja kepanitiaan,” kata dia.
Sejumlah peserta didik merasakan manfaat langsung dari kegiatan ini. Elsya, salah satu pemilih, mengatakan lebih memahami alur pemilihan. Rahmah menyebut kegiatan ini membuatnya mengetahui peran panitia dan kandidat dalam sebuah pemilu sekolah. Sementara Thufail dari Kelompok 4 menilai penghitungan suara menjadi momen paling menegangkan.
Kegiatan ditutup pada Sabtu dengan penyusunan laporan oleh panitia dan kelompok pemilih. Pihak sekolah berharap pengalaman ini dapat memperkuat literasi demokrasi serta menyiapkan kader pelajar yang aktif dan bertanggung jawab di lingkungan IPM.
(Epin Hidayat)



