Agama

Pengajian Ahad Pagi Ranting Muhammadiyah Aglik, Belajar dari Kepribadian Para Sahabat Rasulullah SAW

PURWOREJO — Ranting Muhammadiyah Aglik menggelar Pengajian Ahad Pagi pada Ahad, 6 September 2026, bertempat di Masjid Al Muslimun Ranting Muhammadiyah Aglik. Kegiatan tersebut diikuti warga Muhammadiyah se-Kecamatan Grabag serta masyarakat sekitar.

Hadir sebagai pemateri, Ustadz H. Nasrudin, M.Si., Ketua Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) PDM Purworejo. Dalam kajiannya, beliau mengangkat tema “Belajar dari Kepribadian Para Sahabat.”

Ustadz Nasrudin mengajak jamaah untuk mengambil keteladanan dari kehidupan para sahabat Rasulullah SAW, khususnya empat sahabat utama, yakni Abu Bakar Ash-Shiddiq RA, Umar bin Khattab RA, Utsman bin Affan RA, dan Ali bin Abi Thalib RA.

Menurutnya, keempat sahabat tersebut memiliki keistimewaan masing-masing yang tidak mungkin sepenuhnya dapat ditiru oleh umat Islam pada masa sekarang. Namun demikian, umat Islam harus terus berupaya meneladani sifat dan perilaku mereka dalam kehidupan sehari-hari.

Abu Bakar Ash-Shiddiq RA dikenal sebagai sahabat yang sangat kuat keimanannya, memiliki kejujuran dan keteguhan dalam membenarkan Rasulullah SAW. Ia merupakan sahabat terdekat Rasulullah SAW dan menjadi khalifah pertama setelah wafatnya beliau.

Sementara Umar bin Khattab RA dikenal dengan keberanian, ketegasan, keadilan, dan kemampuannya membedakan antara yang benar dan yang salah. Karena itu, ia dikenal dengan gelar Al-Faruq. Umar merupakan khalifah kedua dan memiliki peran besar dalam perkembangan pemerintahan Islam.

Adapun Utsman bin Affan RA dikenal sebagai sosok yang pemalu, dermawan, dan memiliki ketakwaan yang kuat. Ia mendapat gelar Dzu Nurain karena menikahi dua putri Rasulullah SAW secara berturut-turut. Pada masa kekhalifahannya, dilakukan standardisasi mushaf Al-Qur’an yang kemudian disebarluaskan ke berbagai wilayah Islam.

Sedangkan Ali bin Abi Thalib RA merupakan sepupu sekaligus menantu Rasulullah SAW. Ia tumbuh dekat dengan Rasulullah SAW dan dikenal memiliki keberanian, keluasan ilmu, serta kebijaksanaan. Ali merupakan khalifah keempat dari Khulafaur Rasyidin.

“Keistimewaan para sahabat tentu tidak mungkin kita samai. Tetapi setidaknya kita selalu berupaya untuk meneladani perilaku dan sifat-sifat mereka,” pesan Ustadz Nasrudin kepada jamaah.

Tingkatan Kebenaran dalam Beragama

Dalam kajiannya, Ustadz Nasrudin juga menjelaskan tentang tingkatan kebenaran dalam beragama. Menurutnya, kebenaran mutlak berasal dari Allah SWT. Petunjuk tersebut terdapat dalam Al-Qur’an dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Manusia yang paling dekat dengan sumber kebenaran tersebut adalah para sahabat karena mereka hidup bersama Rasulullah SAW, menyaksikan langsung bagaimana wahyu dipahami dan diamalkan, serta menjadi generasi pertama yang menerima dan meneruskan ajaran Islam. Setelah generasi sahabat, umat Islam juga mengambil pelajaran dari para ulama dan imam mazhab.

Dengan demikian, menurutnya, umat Islam perlu membedakan antara kebenaran yang bersumber langsung dari wahyu dengan pemahaman manusia terhadap wahyu.

“Jadi, kebenaran mutlak itu hanya ada pada Al-Qur’an dan Hadis,” jelasnya.

Memahami Rasulullah SAW sebagai Manusia, Orang Arab, dan Nabi

Mengutip penjelasan Prof. Yunahar Ilyas, Ustadz Nasrudin menerangkan bahwa dalam diri Rasulullah Muhammad SAW terdapat tiga unsur yang perlu dipahami.

Pertama, Muhammad sebagai manusia. Rasulullah SAW dilahirkan dan menjalani kehidupan sebagaimana manusia pada umumnya. Beliau makan, minum, menikah, berkeluarga, bekerja, mengalami kesedihan dan kebahagiaan, serta menjalani berbagai dinamika kehidupan manusia.

Kedua, Muhammad sebagai orang Arab. Sebagai orang Arab, Rasulullah SAW hidup dalam lingkungan budaya Arab. Hal tersebut tampak antara lain dalam cara berpakaian, makanan, bahasa, dan sejumlah kebiasaan sosial yang berkembang pada masyarakat Arab ketika itu.

Ketiga, Muhammad sebagai Nabi dan Rasul Allah. Dalam kedudukan inilah Rasulullah SAW menerima wahyu dan menyampaikan risalah Allah SWT kepada umat manusia.

Lantas, apa yang harus kita ikuti dari Rasulullah SAW?

Ustadz Nasrudin menjelaskan adanya beberapa pandangan. Salah satunya adalah mengikuti Rasulullah SAW secara keseluruhan dalam segala aspek yang memang menjadi bagian dari keteladanan beliau. Pandangan lainnya menekankan bahwa yang menjadi kewajiban untuk diikuti adalah beliau dalam kedudukannya sebagai Nabi dan Rasul, khususnya dalam hal agama, ibadah, akhlak, dan tuntunan syariat.

Belajar dari Kecintaan Para Sahabat kepada Rasulullah SAW

Lebih lanjut, Ustadz Nasrudin mengajak jamaah untuk melihat bagaimana para sahabat mencintai Rasulullah SAW.

Kecintaan para sahabat kepada Rasulullah SAW bukan sekadar kecintaan secara emosional, tetapi diwujudkan melalui ketaatan, pengorbanan, pembelaan terhadap dakwah, serta kesediaan mendahulukan kepentingan agama di atas kepentingan pribadi.

Para sahabat bahkan mencintai Rasulullah SAW melebihi kecintaan kepada dirinya sendiri, keluarga, maupun harta benda. Sejarah kehidupan mereka dipenuhi dengan berbagai kisah pengorbanan yang menunjukkan betapa kuatnya kecintaan tersebut.

“Banyak kisah yang sangat fenomenal dari para sahabat dalam membuktikan kecintaannya kepada Muhammad SAW. Dari sanalah kita dapat belajar bagaimana seharusnya seorang Muslim mencintai Rasulullah SAW,” ungkapnya.

Pengajian Ahad pagi tersebut berlangsung dalam suasana penuh kekeluargaan dan diikuti jamaah dengan antusias. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pembagian doorprize bagi jamaah yang beruntung.

Kegiatan ini menjadi salah satu ikhtiar Ranting Muhammadiyah Aglik dalam memperkuat pemahaman keislaman sekaligus menumbuhkan semangat warga Muhammadiyah dan masyarakat sekitar untuk menjadikan Rasulullah SAW serta generasi sahabat sebagai teladan dalam kehidupan.

(Triyono)

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button