
Pengajian Ahad Pagi PRM Aglik: Ustadz Muhammad Nurrosyid Huda Setiawan Sampaikan Keutamaan Menuntut Ilmu dan Pentingnya Menggunakan Hati, Mata, serta Telinga
PURWOREJO – Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Aglik, Kecamatan Grabag, Kabupaten Purworejo, menyelenggarakan kegiatan Pengajian Ahad Pagi pada Ahad (1/11/2026), bertempat di Masjid Al Muslimun Ranting Muhammadiyah Aglik, Grabag, Purworejo, Jawa Tengah.
Kegiatan pengajian ini diikuti oleh warga Muhammadiyah se-Kecamatan Grabag serta masyarakat sekitar. Hadir sebagai pemateri, Ustadz Dr. (Cand.) Muhammad Nurrosyid Huda Setiawan, S.Th.I., M.I.R.K.H., yang merupakan Direktur Pondok Pesantren Darul Arqom Muhammadiyah Purworejo.
Dalam kajian yang mengangkat tema “Keutamaan Menuntut Ilmu”, beliau menyampaikan pentingnya bagi setiap Muslim untuk senantiasa belajar, memperdalam ilmu agama, serta mengamalkan ilmu yang telah diperoleh dalam kehidupan sehari-hari.
Allah Meninggikan Derajat Orang Beriman dan Berilmu
Sebagai landasan utama pembahasan, pemateri mengangkat firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surah Al-Mujadalah ayat 11.
Ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah SWT akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.
Pesan penting dalam ayat ini bukan sekadar anjuran untuk mencari ilmu, tetapi juga menunjukkan betapa mulianya kedudukan ilmu dalam Islam.
Dalam penjelasan tafsirnya, keimanan dan ilmu merupakan dua hal yang saling melengkapi. Ilmu menjadikan seseorang mampu memahami kebenaran, menjalankan ibadah dengan lebih baik, serta memberikan manfaat bagi sesama.
Ayat ini juga mengajarkan adab ketika berada dalam majelis, yaitu memberikan kelapangan kepada orang lain dan menaati arahan yang baik. Dengan demikian, menuntut ilmu tidak hanya berkaitan dengan kecerdasan, tetapi juga harus disertai akhlak dan kerendahan hati.
Tiga Golongan yang Melalaikan Fungsi Hati, Mata, dan Telinga
Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Muhammad Nurrosyid Huda Setiawan juga menjelaskan kandungan Al-Qur’an Surah Al-A’raf ayat 179.
Ayat ini memberikan peringatan keras tentang golongan jin dan manusia yang memiliki hati, mata, dan telinga, tetapi tidak menggunakannya untuk memahami dan mengenali tanda-tanda kebesaran Allah SWT.
Beliau menjelaskan tiga gambaran manusia yang disebutkan dalam ayat tersebut:
1. Memiliki hati, tetapi tidak digunakan untuk memahami kebenaran.
Hati merupakan tempat manusia memahami dan merenungkan berbagai petunjuk Allah. Namun, ada manusia yang tidak menggunakan hatinya untuk memahami ayat-ayat Allah, membedakan kebenaran dan kebatilan, serta mengambil pelajaran dari kehidupan.
2. Memiliki mata, tetapi tidak digunakan untuk melihat kebesaran Allah.
Allah telah memberikan penglihatan kepada manusia agar dapat menyaksikan berbagai tanda kekuasaan-Nya. Keindahan alam semesta, pergantian siang dan malam, serta berbagai ciptaan Allah seharusnya menjadi sarana untuk meningkatkan keimanan dan rasa syukur.
Namun, apabila mata hanya digunakan untuk melihat hal-hal yang melalaikan dan tidak pernah mengambil pelajaran dari tanda-tanda kebesaran Allah, maka manusia telah mengabaikan salah satu nikmat besar yang diberikan kepadanya.
3. Memiliki telinga, tetapi tidak digunakan untuk mendengarkan kebenaran.
Telinga merupakan nikmat Allah yang memungkinkan manusia mendengar ayat-ayat Al-Qur’an, nasihat, serta berbagai ilmu yang bermanfaat.
Namun, apabila seseorang enggan mendengarkan petunjuk Allah dan nasihat kebaikan, maka fungsi pendengaran tersebut tidak dimanfaatkan sebagaimana mestinya.
Memahami Makna Tafsir Surah Al-A’raf Ayat 179
Dalam penjelasan tafsir Surah Al-A’raf ayat 179, persoalan yang dimaksud bukanlah tidak berfungsinya organ tubuh secara fisik, melainkan tidak digunakannya kemampuan hati, penglihatan, dan pendengaran untuk mengenali kebenaran serta mengambil pelajaran dari ayat-ayat Allah.
Allah SWT mengumpamakan mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi, karena manusia telah diberikan akal dan kemampuan untuk memahami petunjuk, tetapi justru mengabaikannya.
Mereka disebut sebagai orang-orang yang lalai (al-ghafilun), yaitu orang-orang yang tidak mengambil pelajaran dari tanda-tanda kebesaran Allah meskipun berbagai petunjuk telah tersedia di hadapan mereka.
Dengan demikian, ayat ini menjadi peringatan agar manusia tidak hanya memiliki kemampuan untuk melihat, mendengar, dan berpikir, tetapi juga harus menggunakannya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Menuntut Ilmu sebagai Jalan Menjaga Keimanan
Dari kedua ayat tersebut dapat dipahami bahwa menuntut ilmu memiliki kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan seorang Muslim.
Melalui ilmu, seseorang dapat memahami ayat-ayat Allah, mengenali kebesaran-Nya, membedakan yang benar dan yang salah, serta mengamalkan ajaran Islam dengan lebih baik.
Karena itu, umat Islam hendaknya senantiasa menghadiri majelis ilmu, memperbanyak membaca Al-Qur’an, mendengarkan nasihat kebaikan, dan mengamalkan ilmu yang telah dipelajari.
Pengajian Ahad Pagi ini menjadi salah satu ikhtiar dakwah Muhammadiyah dalam membangun kehidupan masyarakat yang berlandaskan iman, ilmu, dan amal saleh.
Kesimpulannya, marilah kita senantiasa menjaga dan menggunakan hati untuk memahami kebenaran, mata untuk melihat tanda-tanda kebesaran Allah, serta telinga untuk mendengarkan ayat-ayat dan nasihat kebaikan. Jangan sampai nikmat yang telah Allah berikan justru menjadi sesuatu yang kita lalaikan. Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita agar termasuk golongan hamba-Nya yang beriman, berilmu, dan terhindar dari siksa neraka Jahanam. Aamiin.
(Triyono)



