
Pengajian Ahad Pagi PCM Bagelen: Ustadz Agus Amin Fadillah Ajak Jamaah Berjihad dengan Jari dan Harta di Era Algoritma
PURWOREJO – Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Bagelen menggelar kegiatan Pengajian Ahad Pagi pada Ahad, 1 November 2026 (21 Jumadil Awwal 1448 H) bertempat di kompleks SMP Muhammadiyah Bagelen. Pengajian yang berlangsung pada pukul 06.00 hingga 07.15 WIB ini mengusung tema “Jangan Mau Diperbudak HP, Jarimu Dihisab: Jadilah Muslim yang Cerdas di Era Algoritma” dengan menghadirkan narasumber Sekretaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Purworejo, Ustadz H. Agus Amin Fadillah, S.E., M.M..
Rangkaian acara dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an yang dilantunkan dengan khidmat oleh siswi kelas 3 MI Muhammadiyah Krendetan. Suasana pengajian berlangsung hangat, komunikatif, dan penuh antusiasme dari para jamaah yang memadati lokasi acara.
Dalam pengantar materinya, Ustadz Agus Amin Fadillah menyoroti realitas masyarakat saat ini yang hampir di setiap rumahnya memiliki telepon genggam (HP), namun justru sering dikendalikan oleh gawai tersebut. Beliau menyentil kebiasaan sehari-hari di mana banyak orang sanggup berinteraksi di grup WhatsApp selama berjam-jam tanpa merasa lelah, tetapi mudah menguap dan mengantuk saat membaca Al-Qur’an selama lima menit atau mengikuti pengajian selama setengah jam. Mengingat HP ibarat pisau bermata dua, umat Islam dituntut selektif memilih konten yang membawa kebaikan agar kehadiran teknologi justru meningkatkan produktivitas dalam menuntut ilmu, beribadah, dan berkarya.
Memasuki inti kajian, Ustadz Agus memandu jamaah melafalkan dan menghafal bersama Surah Al-Baqarah ayat 195 melalui metode pengulangan. Ayat tersebut memuat tiga pesan utama, yaitu perintah berinfak di jalan Allah (wa anfiqu fi sabilillah), larangan menjatuhkan diri ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri (wa la tulqu bi aidikum ilat tahlukah), serta perintah berbuat kebaikan secara optimal (wa ahsinu, innallaha yuhibbul muhsinin).
Mengupas asbabun nuzul dari riwayat Abu Ayyub Al-Anshari serta merujuk pada Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Jalalain, beliau meluruskan bahwa makna kebinasaan (at-tahlukah) bukanlah keberanian maju di medan jihad, melainkan sikap menahan infak dan meninggalkan perjuangan agama karena sibuk mengurus kebun serta harta duniawi. Beliau juga mengutip Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka yang mengibaratkan perjuangan Islam membutuhkan dua sayap—yakni jihad jiwa dan harta—serta mengingatkan bahwa menimbun harta tanpa memedulikan umat merupakan bentuk kebinasaan sosial. Sementara itu, merujuk Tafsir Al-Mishbah karya Prof. Quraish Shihab, umat Islam diajak berpartisipasi menginfakkan harta serta menerapkan sikap ihsan dengan menjadi pribadi yang profesional di bidang pekerjaannya masing-masing, baik sebagai petani, pedagang, maupun guru.
Secara filosofis, Ustadz Agus menekankan agar umat Islam tidak bermental pasif yang hanya menengadahkan tangan menunggu pemberian, melainkan harus aktif hadir memberi manfaat (khairunnas anfa’uhum linnas) dalam keadaan lapang maupun sempit. Prinsip hidup ini selaras dengan tiga langkah wejangan pendiri Muhammadiyah, K.H. Ahmad Dahlan, tentang pengelolaan harta:
- Mencari harta benda yang halal dan baik (halalan thayyiban) dengan kerja keras serta tidak bermalas-malasan.
- Menggunakan harta tersebut untuk mencukupi kebutuhan keluarga secara wajar tanpa bermewah-mewahan atau melampaui batas dengan mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan.
- Mendermakan kelebihan harta yang dimiliki untuk berinfak di jalan Allah.
Beliau menambahkan bahwa keteladanan K.H. Ahmad Dahlan bersama Nyai Walidah yang rela melelang barang pribadi demi membiayai sekolah dan perjuangan umat merupakan bukti nyata pengamalan ayat tersebut. Selain itu, merujuk pada Himpunan Putusan Tarjih (HPT) Masalah Lima dan Pokok Pikiran Keempat Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah, makna fi sabilillah memiliki cakupan yang sangat luas, yakni segala amalan untuk kemaslahatan umat Islam dan meninggikan kalimat Allah, mulai dari membangun sekolah, rumah sakit, panti asuhan, hingga berbagi air bersih saat musim kemarau.
Mengakhiri tausiyahnya, Ustadz Agus mengajak seluruh warga persyarikatan melakukan muhasabah atas keikhlasan perjuangan dan kemanfaatan amal usaha Muhammadiyah bagi masyarakat luas. Beliau mengingatkan bahwa kata bi aidikum (dengan tangan-tanganmu) pada Surah Al-Baqarah ayat 195 menegaskan besarnya peran tangan manusia sebagai instrumen tindakan—mulai dari menulis keputusan yang adil, menandatangani kebijakan publik, mengelola anggaran secara jujur, memilih pemimpin yang amanah, hingga menggerakkan jari di layar HP untuk menyebarkan kebaikan dengan mengedepankan prinsip tabayyun sesuai Surah Al-Hujurat ayat 6.
”Dulu pahlawan berjihad dengan darah, lalu hari ini kita berjihad dengan jari kita, dengan tangan kita,” pungkas Ustadz Agus menutup sesi pengajian pagi tersebut.
(Epin Hidayat)



